Senin, 4 Maret 2024

Keren! Manfaatkan Limbah Kayu, Perajin Asal Blora Ini Tembus Ekspor Korea

Nathan
Kamis, 25 Agustus 2022 18:47:55
Seorang pekerja di kerajinan kayu Desa Tempellemahbang, Jepon, Blora sedang bekerja. (Murianews/Kontributor Blora)
[caption id="attachment_311132" align="alignleft" width="1280"]Keren! Manfaatkan Limbah Kayu, Perajin Asal Blora Ini Tembus Ekspor Korea Seorang pekerja di kerajinan kayu Desa Tempellemahbang, Jepon, Blora sedang bekerja. (Murianews/Kontributor Blora)[/caption] MURIANEWS, Blora – Di tangan perajin kayu, limbah kayu jati ternyata bisa memiliki nilai jual yang lebih. Salah satunya, perajin kayu asal Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Roisah. Perajin kayu berusia 45 tahun itu, berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Korea Selatan berkat mengolah limbah kayu jati. Bahkan, dalam setahun ia mampu mengekspor hingga 12 kontainer. ”Ya bisa di dibilang sebulan satu kontainer untuk diekspor,” jelas roisah, Kamis (25/08/2022). Baca: Ekspor Produk Kayu Jati Blora Terus Didorong Ia menceritakan, saat virus corona mewabah, usahanya memang sempat terpuruk. Namun, setelah mulai mereda, industry mebelnya pun mulai bangkit. Kini, ia terus meningkatkan produksinya dengan kualitas ekspor. Menurutnya, kayu jenis apapun memiliki nilai jual. Itu termasuk limbah kayunya. ”Kayu jenis apa aja bisa masuk. Memang memanfaatkan limbah, karena yang kayu besar-besar jarang laku. Mereka (warga luar indonesia) lebih suka yang kecil,” imbuhnya. Dari tangannya, limbah-limbah kayu itu diolah menjadi ayunan, tatakan bunga, meja, kursi, hingga beragam kerajinan lainnya. Tentunya, produk-produk bikinannya itu sesuai pesanan. “Ya sesuai pesanan, untuk saat ini ekspor yang dilakukan baru korea (selatan) belum ke negara lain,” ucapnya. Harga jual kerajinan kayu dan mebelnya bervariasi. Variasi harga itu berbeda antara yang dijual di Indonesia dengan ekspor. ”harga kalau di sini Rp 500 ribu sampai sana bisa Rp 1 juta. Bahkan bisa lebih, tergantung kualitasnya,” imbuhnya. Dalam menjalankan ekspor itu juga ia tak menghadapi kendala yang berarti. Sebab, bahan baku masih melimpah. ”paling kendala saat finishing saja, kendala lain tidak ada,” ungkapnya. Saat ini, industri mebel dan kayu miliknya setidaknya memiliki kurang lebih 20 karyawan. Mereka merupakan warga desa setempat dan sekitarnya. ”kami juga berdayakan warga sekitar, untuk bekerja disini,” pungkasnya.   Kontributor Blora Editor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Komentar