Jumat, 23 Februari 2024

Angka Stunting di Jateng Tinggi, 35 Pemda Diminta Kerja Optimal

Umar Hanafi
Senin, 6 November 2023 14:39:00
Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana meninjau timbang anak di halaman Pendapa Kabupaten Pati, Senin (6/11/2023). (Murianews/Umar Hanafi) 

Murianews, Pati – Angka stunting di Provinsi Jawa Tengah (Jateng) tergolong tinggi. Sebanyak 35 pemerintah daerah (pemda) di provinsi itu pun diminta untuk kerja lebih optimal untuk menurunkan stunting

Hal ini diungkapkan oleh Penjabat (Pj) Gubernur Jawa Tengah Nana Sudjana dalam acara Pencanangan Kesatuan Gerak PKK Bangga Kencana Kesehatan Provinsi Jawa Tengah di Pendapa Kabupaten Pati, Senin (6/11/2023). 

Ia mengungkapkan angka stunting di Jawa Tengah sebesar 20,8 pada akhir tahun 2022 lalu. Sebenarnya, angka ini cenderung turun dibandingkan pada tahun 2021. Namun penurunan relatif kecil. 

”Kita dari tahun ketahun melakukan penanganan stunting. Tahun 2021 angkanya 20,9 persen. Tahun 2022 di posisi 20,8 persen. Untuk 2023 kita perkiraan bulan Desember dengan upaya melakukan langkah-langkah akan lebih menurun,” tutur Nana Sudjana. 

Ia pun menargetkan stunting mengalami penurunan hingga di angka 14 persen pada akhir tahun 2024 mendatang. Pihaknya pun meminta seluruh Pemda di Jawa Tengah untuk gotong royong menangani stunting

”Target kami 2024 sebanyak 14 persen. Masih ada 1 tahun lebih kita manfaatkan,” kata dia. 

Pada akhir tahun 2022 lalu, hanya 10 kabupaten/kota yang mengalami penurunan stunting. Sementara sebanyak 15 kabupaten/kota lainnya mengalami kenaikan angka stunting

Daerah yang mengalami kenaikan angka stunting itu termasuk Kabupaten Pati. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) prevalensi stunting di Kabupaten Pati pada tahun 2021 sebesar 20,6 persen dan pada tahun 2022 meningkat menjadi 23,0 persen

Sedangkan berdasarkan Elektronik-Pencacatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (EPPGBM) prevalensi stunting Kabupaten Pati pada tahun 2021 sebesar 5,43 persen dan pada tahun 2022 meningkat menjadi 5,78 persen. 

”Kita melakukan berbagai langkah. Tim dari Polda turun, kepala daerah untuk lebih optimal. Stunting ada kaitannya dengan kemiskinan. Kita angkat stunting. Kita lakukan gerakan pasar murah, bantuan, beli tanah dapat rumah Rp 38 juta untuk membangun rumah. Yang bersangkutan benar-benar miskin ektrem,” pungkas dia. 

 

Editor: Supriyadi

Komentar