Portret Karnaval Budaya Hari Jadi Kudus ke-475: Elok dan Semarak
Anggara Jiwandhana
Minggu, 22 September 2024 00:14:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Karnaval budaya dalam rangka memperingati Hari Jadi Kudus ke-475 digelar di Alun-Alun Simpang 7 Kudus pada Sabtu (21/9/2024) malam. Sebanyak 27 rombongan peserta pun menampilkan peragaan aneka budaya lokal yang dibalut dengan kostum elok dan semarak.
Sebut saja Kirab Jenang Tebokan, Madu Lebah Dukuhwaringin, seni Barongan hingga urban legend desa-desa di Kudus layaknya Kayu Naga Muria dan juga Sewu Sempol Masin.
Satu persatu rombongan menampilkan seni gerak lagu dengan balutan busana yang apik dan cocok dengan apa yang diceritakan. Alunan lagu pengiring dan sorot lampu latar juga menambah kesan megah dan meriah dalam gelaran Karnaval Budaya Kudus ini.
Masing-masing rombongan memiliki waktu kurang lebih tiga menit untuk menampilkan visualisasi kebudayaan yang mereka angkat. Tak jarang, tepuk tangan teriring baik di sela maupun setelah para penampil selesai dengan show-nya.
Sekretaris Daerah atau Sekda Kudus Revlisianto Subekti mengungkapkan, kegiatan ini berlangsung sangat meriah. Baik penonton maupun rombongan penampil, semua punya andil untuk menyukseskan acara pada malam hari ini.
”Alhamdulillah ada 27 peserta, pelaksanaannya sukses, masyarakat juga antusias, semoga nanti di puncak acaranya bisa semakin meriah lagi meski tadi juga sudah luber masyarakatnya,” ucapnya usai kegiatan.
Secara keseluruhan, para penampil juga sudah menampilkan banyak sekali kebudayaan lokal dengan sangat representatif. Sehingga kemudian penonton menikmati banyak sekali kebudayaan yang bahkan tidak seluruhnya diketahui.
Hanya memang ada beberpa catatan yang perlu diperhatikan kembali tahun depan. Terutama terkait durasi tampil masing masing rombongan sehingga pertunjukan tidak molor terlalu lama.
”Masing-masing mengangkat tema yang berbeda, masing-masing mengangkat local wisdom-nya sehingga kita bisa menikmati tradisi wilayah di seluruh Kudus ini,” ungkapnya.
Salah satu rombongan penampil dalam kesempatan kali ini adalah PT Sukun Wartono Indonesia. Dengan mengangkat kearifan lokal Desa Gondosari yang memang dalam perjalanannya tak bisa lepas dari tokoh pengusaha Mc Wartono.
Gondosari diceritakan semakin berkembang lebih baik lagi berkat adanya usaha-usaha yang didirikan oleh Mc Wartono yang hingga kini terus maju dan berkembang dengan nama PT Sukun Wartono Indonesia.
Gunungan wayang putih hingga penari-penari berkostum apik menjadi representator dari cerita local wisdom tersebut.



