Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Sebagian kecil warga Desa Sidigede, Kecamatan Welahan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) masih merawat tradisi Prasah. Tradisi seserahan dalam pernikahan dengan kerbau jantan yang diarak keliling kampung.

Tradisi Prasah sudah berjalan sejak puluhan tahun silam. Sejarahnya terawat dalam tradisi tutur atau lisan dari generasi ke generasi.

Modin Desa Sidigede, Nur Rofi'i, menceritakan, tradisi Prasah ini terinspirasi dari kisah Jaka Tingkir saat meminang pujaan hatinya. Konon, saat itu Jaka Tingkir harus menaklukkan kerbau sakti sebagai syarat mendapat restu untuk mempersunting putri Kerajaan Demak.

Kisah itu kemudian ditiru oleh Mbah Simin, yang oleh warga setempat disebut-sebut sebagai orang Sidigede pertama yang memulai Prasah. Dalam tradisi lisan yang berkembang di masyarakat, saat itu Mbah Simin menjumpai seorang yang tengah ngarit atau memotong rumput. Ia merasa iba karena orang itu termasuk miskin.

Atas dasar itu, Mbah Simin kemudian menawarkan diri menikahi anak orang itu dan memberikan hadiah kerbau. Tawaran itu kemudian disetujui dalam suasana batin pasrah, yang akhirnya diduga menjadi awal penamaan prasah dalam tradisi ini.

"Karena orang Jawa saat itu cukup sulit mengucapkan kata pasrah, nyebutnya prasah. Sehingga sampai sekarang disebutnya Prasah," kata Nur, belum lama ini.

Kisah Mbah Simin itu kemudian ditiru generasi Desa Sidigede setelahnya. Setiap pria asli Sidigede yang mempersunting perempuan tetangga sendiri atau tetangga desa, maka akan menggunakan kerbau sebagai seserahan sekaligus mas kawin yang dikemas alam acara tradisi Prasah.

Menurutnya, menjalankan tradisi Prasah sudah menjadi kebanggaan tersendiri bagi warga yang bisa melaksanakannya. Kebanyakan, tradisi Prasah ini hanya bisa dilakukan oleh orang dengan ekonomi menengah ke atas.

Biaya Mahal...

Dia menyebutkan, untuk menjalankan tradisi Prasah, setidaknya butuh biaya hingga Rp 100 juta. Sebab rata-rata kerbau jantan saat ini seharga Rp 50-70 juta.

"Hanya kalangan tertentu yang menjalankannya. Karena biayanya tidak sedikit," sebut Nur.

Sementara di sisi mempelai putri, lanjut dia, prasah dianggap sebagai sedekah dari mempelai pria. Tak ada kewajiban untuk mengembalikan kerbau itu.

"Memang sudah menjadi ciri khas di Desa Sidigede. Ada semacam rasa menjunjung tinggi harga diri anak laki-lakim karena kalau tanpa prasah, dianggap ada yang kurang," jelas dia.

Editor: Budi Santoso

 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler