BMKG bahkan sempat menetapkan status siaga tsunami di sejumlah wilayah seperti Ternate, Halmahera, dan Bitung, sebelum kemudian dilakukan pemantauan lanjutan. Gempa Sulut dan Malut, memang berkekuatan cukup besar.
Tak hanya fokus pada penanganan darurat, pemerintah juga menyoroti pentingnya tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Proses ini harus dilakukan dengan perencanaan matang agar tidak menimbulkan risiko baru di masa depan.
Pratikno mengingatkan pembangunan pascabencana gempa harus memenuhi standar keamanan. Kesalahan dalam konstruksi bisa berujung pada bencana lanjutan, seperti bangunan rapuh atau bahkan memicu banjir.
Murianews, Jakarta – Gempa Sulut dan Malut berkekuatan besar tak hanya mengguncang daratan, tetapi juga memicu respons cepat dari pemerintah pusat di Jakarta. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan keselamatan warga harus menjadi prioritas utama di tengah situasi darurat.
Gempa Sulut dan Malut dengan magnitudo 7,6 yang terjadi pada Kamis (2/4/2026) memicu perhatian serius pemerintah di Jakarta. Dalam arahan terbarunya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya respons cepat, terutama dalam proses penyelamatan dan evakuasi masyarakat terdampak.
Dilansir dari Antara, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, menyampaikan seluruh pihak diminta bergerak sigap di lapangan. Fokus utama saat ini adalah memastikan korban gempa Sulut dan Malut segera ditemukan, dievakuasi, dan mendapatkan layanan terbaik.
Menurutnya, kecepatan menjadi faktor krusial di fase awal bencana. Tanpa data yang akurat, distribusi bantuan berpotensi tidak tepat sasaran. Karena itu, pendataan korban dan kerusakan infrastruktur harus dilakukan secara paralel dengan proses evakuasi.
“Informasi yang tepat akan menentukan efektivitas penanganan. Ini kunci agar bantuan bisa segera sampai ke yang membutuhkan,” ujarnya terkait respon pemerintahan Prabowo Subianto atas Gempa Sulut dan Malut yang terjadi.
Gempa Sulut dan Malut ini tergolong gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas deformasi kerak bumi dengan mekanisme thrust fault atau pergerakan naik. Pusat gempa berada di laut, sekitar 129 kilometer tenggara Bitung, dengan kedalaman 33 kilometer.
Dampaknya terasa cukup luas dengan wilayah Ternate mengalami guncangan kuat (V–VI MMI). Kemudina wilayah Menado merasakan getaran sedang hingga kuat (IV–V MMI). Sedangkan Beberapa wilayah Gorontalo merasakan getaran ringan (II–III MMI) akibat gempa ini.
Tsunami...
BMKG bahkan sempat menetapkan status siaga tsunami di sejumlah wilayah seperti Ternate, Halmahera, dan Bitung, sebelum kemudian dilakukan pemantauan lanjutan. Gempa Sulut dan Malut, memang berkekuatan cukup besar.
Tak hanya fokus pada penanganan darurat, pemerintah juga menyoroti pentingnya tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Proses ini harus dilakukan dengan perencanaan matang agar tidak menimbulkan risiko baru di masa depan.
Pratikno mengingatkan pembangunan pascabencana gempa harus memenuhi standar keamanan. Kesalahan dalam konstruksi bisa berujung pada bencana lanjutan, seperti bangunan rapuh atau bahkan memicu banjir.