Basarnas Sebut Indonesia Masuk Peringkat 3 Dunia Risiko Bencana Tinggi
Cholis Anwar
Kamis, 12 Februari 2026 12:54:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga global dalam hal tingkat risiko bencana.
Data tersebut merujuk pada World Risk Report yang menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab tim SAR nasional ke depan.
”Basarnas dihadapkan dengan berbagai tantangan, antara lain dari World Risk Report menyatakan bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat ketiga negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi,” kata Syafii dikutip dari Kompas.com, Kamis (12/2/2026).
Syafii menjelaskan, salah satu ancaman besar yang kini menjadi atensi serius adalah potensi gempa megathrust.
Berdasarkan pemetaan, potensi bencana ini tersebar di 13 wilayah di seluruh Indonesia. Selain ancaman geologi, dinamika iklim global juga menjadi faktor pengali risiko yang tidak bisa diabaikan.
”Kemudian adanya perubahan iklim global juga berdampak pada meningkatnya frekuensi bencana, kecelakaan, serta kondisi membahayakan manusia,” ujar dia.
Di tengah ancaman bencana yang meningkat, Basarnas justru dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan finansial. Saat ini, kekuatan Basarnas hanya ditopang oleh 5.462 personel yang tersebar di 45 kantor SAR.
Jumlah tersebut dinilai sangat tidak proporsional untuk melayani sekitar 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Ketimpangan ini semakin diperparah dengan kondisi anggaran yang justru menunjukkan tren negatif.
Anggaran...
- 1
- 2



