Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengungkapkan saat ini Indonesia menduduki peringkat ketiga global dalam hal tingkat risiko bencana.

Data tersebut merujuk pada World Risk Report yang menjadi pengingat akan besarnya tanggung jawab tim SAR nasional ke depan.

”Basarnas dihadapkan dengan berbagai tantangan, antara lain dari World Risk Report menyatakan bahwa Indonesia saat ini berada pada peringkat ketiga negara dengan tingkat risiko bencana tertinggi,” kata Syafii dikutip dari Kompas.com, Kamis (12/2/2026).

Syafii menjelaskan, salah satu ancaman besar yang kini menjadi atensi serius adalah potensi gempa megathrust.

Berdasarkan pemetaan, potensi bencana ini tersebar di 13 wilayah di seluruh Indonesia. Selain ancaman geologi, dinamika iklim global juga menjadi faktor pengali risiko yang tidak bisa diabaikan.

”Kemudian adanya perubahan iklim global juga berdampak pada meningkatnya frekuensi bencana, kecelakaan, serta kondisi membahayakan manusia,” ujar dia.

Di tengah ancaman bencana yang meningkat, Basarnas justru dihadapkan pada keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan finansial. Saat ini, kekuatan Basarnas hanya ditopang oleh 5.462 personel yang tersebar di 45 kantor SAR.

Jumlah tersebut dinilai sangat tidak proporsional untuk melayani sekitar 280 juta penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Ketimpangan ini semakin diperparah dengan kondisi anggaran yang justru menunjukkan tren negatif.

Anggaran...

”Sementara itu, dari sisi anggaran, grafik menunjukkan bahwa anggaran Basarnas cenderung mengalami penurunan, sementara kebutuhan biaya operasi dan pemenuhan sumber daya terus meningkat dan tidak terprediksi,” tutur Syafii.

Menyikapi berbagai kendala tersebut, Syafii menekankan pentingnya penguatan sistem SAR nasional melalui pola komunikasi, koordinasi, dan kolaborasi yang solid antar-pemangku kepentingan.

Melalui forum sarasehan ini, Basarnas berharap ada terobosan dan solusi kolektif guna meningkatkan standar pelayanan penyelamatan di Indonesia.

”Melalui sarasehan ini kami sangat mengharapkan terciptanya ruang dialog terbuka dan konstruktif bagi seluruh pihak guna memperkuat sinergi, memperdalam pemahaman, serta melahirkan solusi bersama demi kemajuan layanan SAR di Indonesia,” ucap Syafii.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler