Internasional
Donald Trump Beberkan 5 Alasan Serang Iran hingga Khamenei Wafat
Cholis Anwar
Minggu, 1 Maret 2026 13:37:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Pasca operasi militer yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merinci tujuan strategis di balik agresi tersebut.
Melalui pidato kenegaraan dan pesan video resmi, Minggu (1/3/2026), Trump menegaskan, langkah ini diambil untuk mengakhiri ancaman jangka panjang Teheran terhadap stabilitas global.
Serangan yang dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026) ini menjadi titik balik kebijakan luar negeri Trump, yang semula mengedepankan diplomasi sebelum beralih ke tindakan militer berskala besar.
Berdasarkan pernyataan resmi Gedung Putih, terdapat lima poin utama yang mendasari serangan ke jantung pertahanan Iran:
Pertama, Trump menegaskan Iran dilarang keras memiliki senjata nuklir. Meski International Atomic Energy Agency (IAEA) menyatakan Iran telah menghentikan program senjata nuklirnya sejak 2003, Trump menuduh Teheran secara diam-diam kembali mengembangkan kapabilitas nuklir militer yang mengancam dunia.
Kedua, Trump menyoroti ancaman dari program rudal balistik Iran. Ia mengeklaim Teheran tengah mengembangkan proyektil jarak jauh yang mampu menjangkau benua Eropa hingga daratan Amerika Serikat, meskipun klaim ini belum disertai bukti teknis yang rinci.
Ketiga, serangan ini dimaksudkan untuk memutus rantai dukungan Iran terhadap kelompok proksi di Timur Tengah. Trump merujuk pada sejarah panjang ketegangan, mulai dari krisis sandera 1979 hingga dukungan Teheran terhadap kelompok militan dalam konflik melawan Israel.
Keempat, Presiden AS tersebut menuduh pemerintahan Iran melakukan tindakan represif terhadap puluhan ribu demonstran dalam beberapa bulan terakhir. Walaupun angka tersebut masih diperdebatkan oleh lembaga pemantau independen, isu ini menjadi salah satu dasar moral bagi intervensi militer AS.
Kelima, secara terbuka, Trump menyerukan rakyat Iran untuk menggulingkan pemerintahan yang ada. Ia menegaskan operasi militer ini memiliki dimensi politik kuat untuk mendorong perubahan total struktur kekuasaan di Iran.



