Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode kering atau musim kemarau lebih cepat dari rata-rata biasanya, dengan sifat musim yang cenderung lebih kering.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, pergeseran ini dipicu oleh berakhirnya fase La Nina Lemah pada Februari lalu. Saat ini, kondisi iklim global telah berada pada fase Netral dan berpeluang menuju El Nino kategori Lemah-Moderat pada semester kedua tahun ini.
”Pemantauan anomali iklim di Samudera Pasifik menunjukkan indeks ENSO berada pada angka -0,28 atau Netral. Namun, ada peluang 50-60 persen munculnya El Nino mulai pertengahan tahun yang perlu kita waspadai,” ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3/2026).
BMKG mencatat transisi angin dari Monsun Asia (Angin Baratan) ke Monsun Australia (Angin Timuran) menjadi penanda dimulainya kemarau.
Pada April 2026 persebaran meliputi 114 Zona Musim (ZOM) atau 16,3% wilayah, termasuk pesisir utara Jawa Barat, sebagian besar Jawa Tengah hingga Jawa Timur, NTB, dan NTT.
Selanjutnya pada Mei 2026 persebaran sebanyak 184 ZOM (26,3%) menyusul masuk musim kemarau. Dilanjutkan pada Juni 2026 persebaran mencakup 163 ZOM (23,3%).
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menegaskan bahwa kemarau di 325 ZOM atau sekitar 46,5% wilayah Indonesia diprediksi datang lebih maju (cepat) dari biasanya.
”Wilayah yang mengalami kemarau lebih maju meliputi sebagian besar Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua,” tambahnya.



