Internasional
Selat Hormuz Lumpuh, 1.900 Kapal Masih Tertahan
Cholis Anwar
Jumat, 27 Maret 2026 08:46:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Perusahaan pelayaran raksasa asal Jerman, Hapag-Lloyd, juga melaporkan sedikitnya enam kapal mereka tidak dapat beroperasi di Teluk Persia.
Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council (BIMCO), Filipe Gouveia mengungkapkan, penghentian lalu lintas ini telah memicu guncangan pada pasar pelayaran dunia.
Tercatat sejak 27 Februari hingga 20 Maret 2026, Baltic Dirty Tanker Index melonjak hingga 49 persen, sementara Baltic Clean Tanker Index meroket sebanyak 78 persen.
Kenaikan ini dipicu oleh pembengkakan biaya bahan bakar dan pengenaan biaya tambahan darurat oleh perusahaan pelayaran.
”Sekitar 30 persen ekspor minyak global melalui laut biasanya melewati Selat Hormuz. Jalur darat saat ini tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menggantikan volume kargo sebesar itu,” jelas Gouveia.
Saat ini, sekitar 5,5 persen armada kapal tanker dunia terjebak di kawasan Teluk Persia.



