Langkah ini dinilai krusial mengingat letak geografis Indonesia yang berada di atas 13 area subduksi atau zona Megathrust.
BMKG optimistis melalui uji coba ini, kesadaran masyarakat terhadap respons cepat bencana akan semakin meningkat.
Sistem ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meminimalkan risiko kerusakan infrastruktur serta mencegah jatuhnya korban jiwa akibat guncangan hebat.
”Kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya respons cepat. Dengan sistem ini, risiko korban jiwa dan kerusakan diharapkan dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi yang tepat waktu,” pungkas Faisal.
Murianews, Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersiap melakukan uji coba operasional sistem peringatan dini gempa bumi atau Earthquake Early Warning System (EEWS).
Teknologi ini dirancang untuk memberikan jeda waktu hingga 20 detik bagi masyarakat untuk mengevakuasi diri sebelum guncangan utama yang merusak tiba.
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, uji coba akan difokuskan di tiga wilayah, yakni Jakarta, Jawa Barat, dan Lampung, mulai bulan April 2026 ini.
”Pada bulan ini, kami akan mencoba melakukan operasionalisasi dari sistem Earthquake Early Warning System. Bergantung pada jarak pusat gempa, sistem ini dapat memberikan waktu belasan hingga 20 detik sebelum guncangan kuat dirasakan,” ujar Faisal di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Faisal menjelaskan, EEWS bekerja dengan mendeteksi gelombang primer yang muncul lebih awal namun memiliki daya rusak rendah.
Deteksi cepat terhadap gelombang awal ini memungkinkan sistem memperkirakan waktu kedatangan gelombang sekunder yang bersifat jauh lebih menghancurkan.
Penting untuk dipahami, teknologi ini bukan alat prediksi kapan gempa akan terjadi, melainkan sistem peringatan instan saat gempa sudah mulai berlangsung di pusatnya.
Pengembangan EEWS merupakan hasil kolaborasi BMKG dengan mitra strategis selama empat tahun terakhir. Proyek ini melibatkan investasi besar, terutama untuk pemasangan sensor sensitif serta penguatan jaringan pemantauan di seluruh titik rawan.
Magathrust...
Langkah ini dinilai krusial mengingat letak geografis Indonesia yang berada di atas 13 area subduksi atau zona Megathrust.
BMKG optimistis melalui uji coba ini, kesadaran masyarakat terhadap respons cepat bencana akan semakin meningkat.
Sistem ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meminimalkan risiko kerusakan infrastruktur serta mencegah jatuhnya korban jiwa akibat guncangan hebat.
”Kami berharap masyarakat semakin memahami pentingnya respons cepat. Dengan sistem ini, risiko korban jiwa dan kerusakan diharapkan dapat diminimalkan melalui langkah mitigasi yang tepat waktu,” pungkas Faisal.