Menurut Dr Givo, kondisi penurunan suhu ini terasa makin nyata di area pegunungan dan dataran tinggi.
Selain faktor elevasi, udara dingin cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Di wilayah tertentu seperti Dataran Tinggi Dieng, fenomena ini bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Faktor lain yang turut memperkuat bediding adalah pengaruh pergerakan Angin Monsun Australia. Mengingat Australia tengah mengalami musim dingin, massa udara yang bertiup menuju Indonesia membawa karakter sejuk dan kering, khususnya ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
”Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” urainya.
Murianews, Jakarta – Cuaca dingin yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa saat malam hingga pagi hari belakangan ini ramai diperbincangkan. Bahkan di beberapa daerah di Jawa Tengah, suhu udara bisa mencapai 14 derajat Celsius.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Dr Givo Alsepan mengatakan, fenomena cuaca dingin atau bediding tidak secara langsung disebabkan oleh perubahan iklim.
Fenomena ini merupakan bagian dari dinamika iklim musiman yang lazim terjadi pada periode Juni hingga September.
Meski demikian, perubahan iklim tetap dapat memengaruhi karakteristik bediding, seperti pergeseran waktu awal musim kemarau, tingkat kelembapan udara, frekuensi malam yang cerah, hingga lamanya durasi suhu dingin bertahan.
”Bediding merupakan fenomena atmosfer yang normal terjadi selama musim kemarau. Ia tidak berdiri sendiri melainkan manifestasi dari proses fisik atmosfer. Kondisi ini terjadi ketika suhu minimum harian turun cukup signifikan akibat pendinginan radiasi yang berlangsung sangat efektif,” jelas Givo dikutip dari laman resmi IPB.
Ia menerangkan, fenomena tersebut dipicu oleh kombinasi beberapa kondisi atmosfer khas musim kemarau, salah satu penyebab utamanya adalah tutupan awan yang minim pada malam hari.
”Minimnya tutupan awan membuat panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari lebih mudah dipancarkan kembali ke atmosfer dan luar angkasa sehingga suhu udara di dekat permukaan turun lebih cepat,” ungkapnya.
Selain itu, tingkat kelembapan udara pada musim kemarau cenderung jauh lebih kering. Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer membuat panas tidak tersimpan, sehingga proses pendinginan berlangsung makin efektif pada malam hingga pagi hari.
Penurunan Suhu...
Menurut Dr Givo, kondisi penurunan suhu ini terasa makin nyata di area pegunungan dan dataran tinggi.
Selain faktor elevasi, udara dingin cenderung mengalir dan berkumpul di lembah. Di wilayah tertentu seperti Dataran Tinggi Dieng, fenomena ini bahkan dapat memicu terbentuknya embun beku atau embun upas.
Faktor lain yang turut memperkuat bediding adalah pengaruh pergerakan Angin Monsun Australia. Mengingat Australia tengah mengalami musim dingin, massa udara yang bertiup menuju Indonesia membawa karakter sejuk dan kering, khususnya ke wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
”Indonesia saat ini berada pada musim kemarau yang dipengaruhi monsun Australia, sedangkan Eropa, Amerika Utara, maupun sebagian Asia Timur sedang memasuki musim panas,” urainya.