Melalui narasi dalam unggahan video tersebut, pihak pemenang menegaskan, aksi protes ini bukan bentuk kurangnya rasa syukur, melainkan bentuk kritik atas penghargaan terhadap kerja keras pelari.
”Bukan tidak bersyukur, kita lari daftar itu mahal, capek juga. Masa kategori 27 km sama 15 km hadiahnya sama. Ngasih podium kok gak ngotak. Ini buat pelajaran untuk para pencari podium. Tolong ya @bromo.tenggertrailrun minta kejelasannya,” tulis akun Instagram @yusuf_wildan_1311.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara Bromo Tengger Trail Run belum memberikan pernyataan resmi terkait protes dan tuntutan klarifikasi dari para pemenang podium tersebut.
Murianews, Pasuruan – Gelaran ajang lari lintas alam Bromo Tengger Trail Run 2026 yang diselenggarakan pada Minggu (26/7/2026) mendadak disorot publik.
Bukan karena keindahan jalur pelariannya, melainkan lantaran keluhan dari para juara podium yang merasa apresiasi dari pihak panitia jauh dari kata layak. Bahkan tak sebanding dengan biaya pendaftaran.
Kekecewaan para atlet lari ini mendadak viral di media sosial setelah diunggah oleh akun Instagram @yusuf_wildan_1311. Dalam video berdurasi singkat yang beredar luas, tampak para pemenang membuka amplop hadiah berisi deretan uang tunai pecahan Rp 100.000 dengan gaya nada sindiran.
Seorang pelari yang berhasil menyabet juara kedua kategori 15 kilometer memperlihatkan momen saat ia menghitung uang di dalam amplopnya. Saat menyebutkan nominal uang lembaran Rp 100.000, ia secara satir mengucapkannya sebagai ”satu juta”.
Setelah seluruh lembaran dihitung, total isi amplop tersebut hanya berjumlah Rp 400.000, yang ia sebut dengan nada bercanda sebagai ”Empat juta”.
Kondisi tak jauh beda dialami oleh peraih juara pertama di kategori yang lebih berat, yakni 27 kilometer. Saat membuka amplopnya, ia melakukan hal serupa. Menghitung tiap lembar pecahan Rp 100.000 sembari menyebutnya ”satu juta” hingga total uang yang diterimanya sebesar Rp 500.000,yang dengan nada menyindir ia sebut sebagai ”lima juta”.
”Pendaftarane gak balik (Uang pendaftarannya tidak kembali),” ujar peraih juara pertama kategori 27 km tersebut dalam rekaman video.
Kekecewaan mendalam para peserta lantaran besarnya pengorbanan fisik serta biaya yang telah mereka keluarkan untuk mengikuti ajang bergengsi ini.
Minta penjelasan...
Melalui narasi dalam unggahan video tersebut, pihak pemenang menegaskan, aksi protes ini bukan bentuk kurangnya rasa syukur, melainkan bentuk kritik atas penghargaan terhadap kerja keras pelari.
”Bukan tidak bersyukur, kita lari daftar itu mahal, capek juga. Masa kategori 27 km sama 15 km hadiahnya sama. Ngasih podium kok gak ngotak. Ini buat pelajaran untuk para pencari podium. Tolong ya @bromo.tenggertrailrun minta kejelasannya,” tulis akun Instagram @yusuf_wildan_1311.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyelenggara Bromo Tengger Trail Run belum memberikan pernyataan resmi terkait protes dan tuntutan klarifikasi dari para pemenang podium tersebut.