Penen Padi Melimpah, Harga di Atas APP Bikin Petani Rembang Semringah
Dani Agus
Kamis, 29 Januari 2026 10:41:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Rembang – Produktivitas padi pada awal 2026 atau Musim Tanam I (MT I) di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, menunjukkan hasil yang baik.
Selain itu, harga gabah di tingkat petani berada di atas Angka Pembelian Pemerintah (APP), sehingga memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan petani.
”Berdasarkan hasil panen awal, produktivitas padi mencapai sekitar 5,8 ton per hektare. Hal ini menunjukkan kondisi pertanaman di Kabupaten Rembang cukup baik,” Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Agus Iwan Haswanto.
Agus menyampaikan, panen perdana MT I telah dilakukan melalui kegiatan ubinan bersama penyuluh pertanian, petugas lapangan, serta Badan Pusat Statistik sebagai dasar perhitungan produktivitas.
Terkait sebaran wilayah panen, Agus menambahkan bahwa panen awal MT I belum terpusat di satu kecamatan tertentu. Panen diperkirakan akan segera meluas dan merata ke berbagai kecamatan di Kabupaten Rembang dalam waktu dekat.
Agus menjelaskan, dari sisi harga, gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tercatat mencapai Rp 7.100 per kilogram. Harga tersebut berada di atas APP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) diperkirakan lebih tinggi seiring dengan kualitas gabah yang relatif baik. Agus menjelaskan, kualitas gabah hasil panen MT I tahun ini tergolong optimal.
Selama masa tanam hingga panen, tidak ditemukan serangan hama dan penyakit yang signifikan, serta proses pengisian bulir berlangsung dengan baik.
Proses Pengeringan Gabah...
”Kondisi tanaman relatif sehat dan pengisian bulir maksimal, sehingga kualitas gabah yang dihasilkan juga baik,” jelasnya, dilansir dari laman Pemkab Rembang.
Meski demikian, pihaknya mencatat masih adanya tantangan pada aspek pascapanen, khususnya proses pengeringan gabah di tengah musim hujan. Keterbatasan sinar matahari menyebabkan pengeringan konvensional belum optimal dan berdampak pada aktivitas penggilingan padi.
”Pengeringan gabah masih menjadi perhatian. Ke depan, muncul usulan agar pemerintah dapat memfasilitasi pengadaan mesin pengering gabah untuk mendukung petani maupun pelaku penggilingan padi,” ungkapnya.
Saat ini, fasilitas mesin pengering gabah di Kabupaten Rembang masih terbatas dan baru tersedia di beberapa wilayah, seperti Karangsari dan sejumlah titik lainnya. Sebagian besar petani masih mengandalkan pengeringan gabah secara alami.



