Khatib Salat Idulfitri di Bantul Minta Pemilih Jokowi Istigfar
Deka Hendratmanto
Jumat, 12 April 2024 09:23:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Bantul – Ustaz H Untung Cahyono, khatib salat Idulfitri di Lapangan Tamanan, Banguntapan, Bantul, Jogja meminta pemilih Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk istigfar.
Ustaz Untung mendadak viral karena materi khotbahnya sarat dengan muatan politik setelah cuplikan videonya diunggah oleh pemilik akun Instagram @ekosupraptowibowo, salah satu jemaah yang hadir dan merekam ceramahnya.
Dalam ceramahnya, Ustaz Untung menyebut penyelenggaraan pemilu 2024 adalah yang terburuk sepanjang sejarah Indonesia.
Ustaz Untung juga mengatakan bahwa problematika pelanggaran pemilu 2024 yang sering disebut terjadi secara terstruktur, sistematis, dan masif itu ironisnya terkait dengan perilaku Presiden Jokowi.
”Mereka yang dahulu merasa sebagai pemilihnya (Presiden Jokowi, Red) sebaiknya istigfar, karena pilihannya telah membuat kecewa banyak pihak,”demikian isi ceramah Ustaz Untung.
Lebih lanjut Ustaz Untung mengatakan bahwa Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar.
”Namun akibat perilaku yang curang dalam pemilu, kita bisa menjadi bangsa yang porak-poranda dibuatnya,” lanjut Ustaz Untung.
Banyak jemaah yang hadir terekam tidak nyaman dengan khotbah Ustaz Untung tersebut.
Mereka mulai menggerutu dan berteriak menumpahkan kekesalannya sebelum membubarkan diri.
Meski terlihat kesal sambil meninggalkan lapangan, para jemaah tidak terpancing untuk melakukan tindakan anarki.



