Selasa, 28 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


Ia terus berkutat dengan ban sepeda motor yang sedang ditambalnya. Kedua tangannya yang sudah mulai sedikit keriput terlihat begitu kontras dengan velg sepeda motor yang kinclong.

Untuk wanita dengan usia 50 tahun, Nyamini memang masih sedikit terlihat kuat untuk menjadi seorang penambal ban. Namun demikian, ia tak punya pilihan lain untuk melakukan pekerjaan dalam mencukupi kebutuhan keluarga.

Apalagi, kini Nyamini menjadi tulang punggung keluarga. Suaminya, Agus Anwar (60) sudah tidak bisa lagi melakoni pekerjaan sebagai penambal seperti beberapa tahun lalu. Agus lebih banyak istirahat di rumah karena kondisi fisiknya yang sudah mulai melemah.

Sebagai penggantinya, Nyamini harus melanjutkan pekerjaan ini meski sendirian. “Dulu ketika suami masih sehat, ya bersama suami kerja nambal ini. Tapi, sejak 2012 lalu, saya bekerja sendirian, karena kondisi kesehatan suami sudah menurun,” ujar wanita asal Pandean RT 2 RW 2 Kecamatan Rembang ini.
Setiap hari, dirinya mangkal di perempatan Alun-alun Rembang dengan beberapa peralatan untuk keperluan tambal ban, yang dimuatnya dalam gerobak. “Sebelum di sini, dulu lapak saya di daerah Tasikagung. Tapi sejak 2009, saya pindah sini,” imbuhnya.Setiap harinya, dirinya biasa mulai buka jasa tambal ban mulai pukul 08.00 WIB hingga jelang Maghrib, bahkan hingga malam. Untuk penghasilan sendiri, menurutnya tak bisa menjadi patokan. Baginya, berapapun hasilnya, dirinya harus bersyukur.Dengan hasil keringatnya itulah, dirinya masih bisa menyekolahkan putrinya hingga SMA. “Putri saya dapat lulus di SMA Santamaria. Sedangkan anak saya yang laki-laki yang masih berusia 22 tahun ini juga baru kejar paket untuk kesetaraan. Meskipun sekolah tak seperti siswa pada umumnya, mudah-mudahan nanti dapat manfaat hasilnya," pungkasnya.Editor : Kholistiono

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler