Sejarah Larungan Kepala Kerbau di Jepara, Berawal dari Ini
Faqih Mansur Hidayat
Senin, 7 April 2025 12:25:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Ia berencana mengemas kegiatan larungan tahun depan dengan lebih meriah, melibatkan lebih banyak pelaku budaya dan pelaku pariwisata.
”Jepara, dengan lautnya yang kaya dan budayanya yang kuat, kembali membuktikan bahwa warisan leluhur bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk dirayakan bersama. Di tengah arus modernisasi, Lomban adalah pengingat bahwa identitas dan rasa syukur adalah dua hal yang tak boleh hilang dari jati diri bangsa,” ujarnya.
Momen puncak terjadi saat kepala kerbau dilarung ke laut lepas. Seketika, beberapa pemuda terjun ke laut. Berenang sekuat tenaga untuk memperebutkan kepala kerbau tersebut.
Tradisi ini diyakini membawa keberkahan bagi siapa pun yang berhasil mengambilnya. Sorak-sorai pun menggema, menyatu dengan debur ombak dan semangat kebersamaan yang begitu kental terasa.
Editor: Anggara Jiwandhana



