Tak Boleh Asal, Begini Ritual Pembuatan Miniatur Kapal Larungan Jepara
Faqih Mansur Hidayat
Senin, 7 April 2025 12:46:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Agus menambahkan saat membuat kapal pun harus ada tiga komponen yang tidak boleh terlewatkan, seperti kain putih, pohon pisang raja, dan bambu apus.
Ketiga komponen itupun memiliki arti masing-masing. Seperti pohon pisang raja di gambarkan sebagai raja setan lautan, dan bambu apus sebagai wujud tolak balak para nelayan yang hendak melaut.
”Filosofinya pohon pisang raja itu diibaratkan rajanya setan atau raja penghuni laut. Kalau pring apus ditusuk ke pohon tadi bertujuan biar setan di laut apes, nelayan melaut itu biar selamat,” ucapnya.
Seusai dibuat dikediaman Agus, miniatur kapal larungan pembawa kepala kerbau ini akan diangkat bersama-sama oleh pemuda Ujungbatu menuju ke rumah kediaman mantan Lurah Ujungbatu yang berjarak sekiranya 500 meteran.
Selanjutnya, kapal diarak dari rumah mantan Lurah Ujungbatu sampai ke TPI yang berjarak 700 meteran. Kapal dilarung di laut sekitar Pulau Panjang.
Editor: Dani Agus



