Ada 94 Anak Siap Jadi Siswa Sekolah Rakyat Jepara, Tapi Kuota Segini
Muhamad Fatkhul Huda
Senin, 21 Juli 2025 19:08:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Sekolah rakyat di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) terus dipersiapkan. Saat ini sudah ada 94 anak yang disiapkan untuk menjadi siswa sekolah tersebut.
Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinsospermades) Jepara, Edy Marwoto menyebut, dari ratusan anak yang di-ground checking, 94 di antaranya menyatakan siap bersekolah di Sekolah Rakyat.
”Dari 94, nanti akan diseleksi menjadi 75. Kemudian akan ditetapkan dengan SK Bupati Jepara,” kata Edy saat dikonfirmasi Murianews.com, Senin (21/7/2025).
Edy mengklaim bahwa 94 calon siswa dan keluarganya sudah setuju jika nantinya akan masuk ke Sekolah Rakyat. Satuan tugas (Satgas) penerimaan siswa dari Kementerian Sosial (Kemensos) RI akan menyeleksinya menjadi 75 siswa tingkat Sekolah Dasar.
”Itu disesuaikan dengan kapasitas Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan yang bakal menjadi rintisan sekolah rakyat di Kota Ukir,” ungkapnya.
Dalam proses seleksi itu, lanjut Edy, satgas akan mencari calon siswa yang tidak memiliki penyakit menular atau berbahaya, sebab nantinya para siswa akan diasrama.
Kemudian, calon siswa juga akan dipastikan masuk dalam desil 1 dan 2. Artinya, mereka berasal dari kelompok keluarga yang dianggap paling miskin dan keluarga hampir miskin.
Edy menyebut, sebagian besar dari 94 anak itu kini sudah sekolah di sekolah reguler. Sebagiannya lagi memang anak tidak sekolah (ATS).
Keluarga Sepakat...
- 1
- 2



