Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jepara – Hujan lebat selama tiga hari terakhir ini membuat sejumlah wilayah di Kabupaten Jepara, Jawa tengah dilanda bencana banjir dan longsor. Setidaknya ada delapan kecamatan yang diterpa bencana.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jepara, depapan kecamatan itu adalah Kecamatan Keling, Donorojo, Kalinyamatan, Nalumsari, Mayong, Bangsri, Tahunan dan Kembang.

”Yang paling parah di Kecamatan Keling, tepatnya di Desa Tempur. Karena tanah longsor dan banjir yang mengakibatkan jalan terputus,” kata Bupati Jepara, Witiarso Utomo kepada Murianews.com, Senin (12/1/2026).

Wiwit memastikan penanganan bencana ini dilakukan secara terstruktur. Untuk itu, dia meminta seluruh perangkat daerah bergerak cepat dan terkoordinasi di lapangan.

”Yang paling utama adalah keselamatan masyarakat. Kami tidak ingin penanganan berjalan sendiri-sendiri. Semua harus terkoordinasi. Agar risiko bagi warga bisa ditekan,” jelas Wiwit.

Sejak pagi, Wiwit bersama rombongan perangkat daerah mendatangi sejumlah titik bencana di Kecamatan Nalumsari, Mayong dan Kalinyamatan. Di wilayah ini, kemarin, dilanda banjir dengan rata-rata kedalaman 1 meter.

”Tapi hari ini Alhamdulillah sudah mulai reda. Banjir sudah mulai surut,: imbuhnya.

Jembatan Putus... 

Wiwit juga mengecek berbagai infrastruktur yang terdampak. Seperti jembatan putus dan hanyut di Desa Karangnongko, Kecamatan Nalumsari.

Meskip hanya bisa dilintasi satu sepeda motor,  jembatan ini menjadi akses penting bagi mobilitas warga antar Desa Ngetuk dan Karangnongko. Jembatan sepanjang 30 meter itu lenyap tanpa sisa.

”Jembatan ini sangat urgent. Jadi akan segera kita bangun kembali. Dijadwalkan nanti setelah lebaran,” ujar Wiwit.

Sementara di Desa Pringtulis, Kecamatan Nalumsari, siang ini warga masih membersihkan sisa-sisa material yang terbawa banjir. Kemarin sekitar pukul 15.00 WIB, air sungai dekat permukiman meluap.

Di area jalan perkampungan, ketinggian air setinggi perut orang dewasa. Sedangkan di dalam rumah, kedalamannya setinggi lutut orang dewasa.

Editor: Zulkifli Fahmi

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler