”Saat ini hutan alam sekunder yang masih asli tinggal sekitar 2 ribu hektar,” sebut Soegiharto.
Melihat kondisi itu, Widjanarko mendorong agar reboisasi lebih sering dilakukan. Baik di kawasan hutan rakyat maupun kawasan lindung.
Selain itu, imbuh Widjanarko, masyarakat pinggir hutan Muria harus berdamai dengan bencana melalui mitigasi tradisional atau kearifan lokal.
”(Mitigasi tradisional) Untuk mengingatkan jika berada di daerah rawan bencana dengan sedekah bumi. Serta mitigasi modern dengan banyak-banyak penghijauan, pemantauan sungai dan membaca cuaca,” tutur Widjanarko.
Murianews, Jepara – Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng) dihantam longsor dan banjir bandang yang mengakibatkan desa ini sempat terisolasi total. Ada sinyal khusus dari alam yang ditangkap oleh peneliti jauh sebelum bencana ini terjadi.
M Widjanarko, Ketua Pusat Studi Lingkungan Hidup dan Kebencanan LPPM Universitas Muria Kudus (UMK) menilai, bencana alam, baik banjir maupun tanah longsor yang terjadi saat ini, tidak terlepas dari curah hujan yang turun dengan deras.
”Tetapi kita tidak bisa menyalahkan alam,” kata Widjanarko kepada Murianews.com, Rabu (14/1/2026).
Berdasarkan catatan warga, bencana tahun ini merupakan yang paling besar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.
”Saya beberapa kali ke Tempur. Sering malah. Tahun 2006 dan 2014 saat ada bencana saya hadir untuk ikut respon,” kenang Widjanarko.
Menurutnya, Desa Tempur merupakan kawah purba Muria dengan geografis naik turun. Pasca banjir bandang 2006 dan 2014, masyarakat sudah paham mitigasi bencana.
Hanya saja, kata dia, terkadang alam tidak bisa dinegoisasi. Sehingga masyarakat acap kali lupa untuk selalu memitigasi bencana dan melakukan perawatan-perawatan sungai.
Apakah karena dampak deforestasi atau alihfungsi hutan menjadi lahan kopi?
Menurtnya, sejak reformasi sudah habis hutan tanaman keras di wilayah atas. Di sisi lain, tanaman kopi berada di hutan rakyat milik petani, kawasan hutan lewat Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan bekerjasama Perhutani KPH Pati.
”Maraknya tanaman kopi tidak signifikan dengan kerusakan hutan Muria,” tegas Widjanarko.
Berdasarkan data satelit yang dijadikan rujukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian Tahura, per tahun 2024 menunjukkan hanya 7.287 hektare area tutupan hutan asli yang tersisa di kawasan Muria.
Murianews.com sempat wawancara dengan Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) DLHK Provinsi Jateng, Soegiharto.
Dia menyebut, sudah sejak lama masyarakat berinteraksi dengan hutan negara. Dia membenarkan sudah ada beberapa kawasan yang sudah dimasuki tanaman bukan sesuai habitat awal.
”Yang paling mendominasi saat ini tanaman kopi. Jadi sudah mengubah dari fungsi hutan alam,” kata Soegiharto, Kamis (27/11/2025).
Meskipun begitu, dia menilai laju deforestasi itu masih dalam taraf aman. Melihat luasan wilayah hutan yang saat ini sudah ditanami masyarakat dengan tanaman kopi, dia menganggap sudah cukup untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.
Saran...
”Saat ini hutan alam sekunder yang masih asli tinggal sekitar 2 ribu hektar,” sebut Soegiharto.
Melihat kondisi itu, Widjanarko mendorong agar reboisasi lebih sering dilakukan. Baik di kawasan hutan rakyat maupun kawasan lindung.
Selain itu, imbuh Widjanarko, masyarakat pinggir hutan Muria harus berdamai dengan bencana melalui mitigasi tradisional atau kearifan lokal.
”(Mitigasi tradisional) Untuk mengingatkan jika berada di daerah rawan bencana dengan sedekah bumi. Serta mitigasi modern dengan banyak-banyak penghijauan, pemantauan sungai dan membaca cuaca,” tutur Widjanarko.
Editor: Anggara Jiwandha