Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Menurtnya, sejak reformasi sudah habis hutan tanaman keras di wilayah atas. Di sisi lain, tanaman kopi berada di hutan rakyat milik petani, kawasan hutan lewat Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dengan bekerjasama Perhutani KPH Pati.

”Maraknya tanaman kopi tidak signifikan dengan kerusakan hutan Muria,” tegas Widjanarko.

Berdasarkan data satelit yang dijadikan rujukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk penelitian Tahura, per tahun 2024 menunjukkan hanya 7.287 hektare area tutupan hutan asli yang tersisa di kawasan Muria.

Murianews.com sempat wawancara dengan Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Konservasi Sumber Daya Alam (SDA) DLHK Provinsi Jateng, Soegiharto.

Dia menyebut, sudah sejak lama masyarakat berinteraksi dengan hutan negara. Dia membenarkan sudah ada beberapa kawasan yang sudah dimasuki tanaman bukan sesuai habitat awal.

”Yang paling mendominasi saat ini tanaman kopi. Jadi sudah mengubah dari fungsi hutan alam,” kata Soegiharto, Kamis (27/11/2025).

Meskipun begitu, dia menilai laju deforestasi itu masih dalam taraf aman. Melihat luasan wilayah hutan yang saat ini sudah ditanami masyarakat dengan tanaman kopi, dia menganggap sudah cukup untuk mendukung kesejahteraan masyarakat.

Saran... 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler