Cerita Warga Suwawal Soal Pesta Miras Maut Jepara
Faqih Mansur Hidayat
Selasa, 10 Februari 2026 20:02:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Miras kiriman itulah yang diduga menjadi sebab kematian lima orang yang menggegerkan tersebut. Sebab oleh pengakuan pelayan di warung tersebut, miras gingseng yang dikirim pada Sabtu (7/2/2026) itu berbeda dari biasanya.
"(Cerita pelayan warung) Kok rasanya enggak seperti biasanya. Baunya wangi. Seperti bau sabun mandi," kata Warga yang tidak mau disebutkan namanya ini.
Dalam kasus Pesta Miras Maut Jepara, korban pesta miras maut yang pertama kali dikabarkan meninggal dunia adalah Nur Amin, warga RT 1 RW 4 Desa Suwawal Timur sekitar pukul 08.00 WIB, Senin (9/2/2026). Nur Amin sempat dibawa ke rumah sakit, sebelum akhirya meninggal dalam upaya perawatan.
Beberapa jam setelah itu, siang harinya, warga RT 3 RW 3 Desa Suwawal Timur bernama Soleh juga meninggal dunia. Kemudian sekitar magrib, warga Jepara yang tinggal Desa Bulungan bernama Hadi juga meninggal dunia.
Sedangkan dua korban asal Desa Suwawal atau Suwawal Barat, dikabarkan meninggal dunia pada Selasa (10/2/2026) pagi. Mereka bernama Ari dan seorang lain yang akrab disapa Kupat.
Sedangkan tiga korban pesta miras maut Jepara yang masih kritis di rumah sakit adalah Eko, pekerja warung miras yang menyediakan tempat karaoke tersebut. Eko beralamat di Desa Selagi, Kecamatan Pakisaji. Lalu Miun warga Suwawal Barat dan Eli warga Suwawal Timur.
Keberadaan warung miras tersebut, sudah lama meresahkan warga. Hampir tak ada yang digubris ketika berupaya mengingatkan. Di sisi lain, warga juga kurang kompak dalam bersikap.
"Sudah lama meresahkan. Musiknya berisik. Ramadan tahun kemarin ada keluhan warga, harapannya ada rasa toleransi. Warga juga sudah mentolelir lebih-lebih. Saat magrib tetap jalan terus. Setiap hari nyaris begitu," pungkas warga sekitar lokasi karaoke.
Editor: Budi Santoso



