Kisah Mbah Dimyathi Sukri Jepara, Ulama Pejuang Kemerdekaan (Bag-1)
Faqih Mansur Hidayat
Senin, 9 Maret 2026 13:08:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Sesampainya di jembatan yang sekarang disebut jembatan Bangrawi, Suwawal, sapinya berhenti dan tak mau berjalan. Rupanya, di dekatnya terdapat sosok mayat bersimbah darah, yang kemudian diketahui adalah Mbah Dimyathi Sukri.
"Jasad Mbah Dimyathi dibuang di sungai bawah jembatan. Kondisinya bersimbah darah habis diberondong bedil Belanda," ujar Kliwat.

Karena berniat menjual sapi, kakek Kliwat melanjutkan perjalanan. Namun sebelum itu, ia meminta doa kepada jasad itu, agar kalau sapinya laku, nanti akan dipulasara atau dikebumikan. Belum sampai pasar, rupanya sapi sudah laku.
Lalu setelah itu ia menepati janjinya. Ia kembali ke Jembatan Bangrawi. Tak disangka, rupanya jasad itu sudah tidak ada. Setelah dicari dengan mengikuti alur sungai kecil, rupanya jasad Mbah Dimyathi Sukri berhenti di satu tempat. Di tempat itulah, pejuang itu kemudian dimakamkan.
"Sesuai janji kakek saya, kalau sapinya laku, akan dipulasara. Makannya makam ini disebut makam pulasara. Makam ini adalah titik dimana jasad Mbah Dimyathi Sukri pertama kali ditemukan setelah terbawa arus sungai. Tidak pernah dipindah-pindah," jelas Kliwat. (Bersambung)
Editor: Budi Santoso



