Pertamina Larang BBM Eceran, Kendaraan Warga Karimunjawa Tak Berguna
Faqih Mansur Hidayat
Rabu, 1 April 2026 17:44:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Pertamina masih melarang adanya jual beli bahan bakar minyak (BBM) eceran di Kepulauan Karimunjawa, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah (Jateng). Akibatnya, warga tak bisa menggunakan lagi kendaraannya.
Petinggi Desa Karimunjawa, Arif Setiawan menyebut, larangan pembelian pertalite bagi pengecer di SPBU berlangsung sejak sepekan terakhir. Padahal, sejauh ini pengecer masih bisa beli sekitar 400-500 liter.
Keberadaan pengecer sangat krusial bagi masyarakat. Terutama mereka yang berada di Pulau Kemujan, Parang, Nyamuk atau Genting yang letaknya jauh dari Karimunjawa. Bahkan harus menempuh jalur laut untuk sampai ke SPBU Karimunjawa.
Karena di pengecer tak ada stok, mau tidak mau warga membeli di SPBU yang hanya ada satu-satunya di Kepulauan Karimunjawa itu. Antrean panjang pun tak terelakkan.
"Sampai hari ini masih sama kondisinya. Antrean di SPBU sampai ratusan meter. Karena semua masyarakat harus beli langsung di SPBU dengan pelayanan terbatas," kata Arif, Rabu (1/4/2026).
Sebagai petinggi, dia pun tak bisa berbuat banyak saat warganya mengadu soal masalah ini. Sebab kebijakan ini berada di bawah kewenangan Pertamina.
Dampak paling parah dirasakan masyarakat di Pulau Nyamuk, Parang dan Genting. Kebijakan ini jelas membuat mereka tak berdaya.
Jalan Kaki...
Petinggi Desa Nyamuk, Muaziz mengatakan, saat ini warganya sudah kehabisan pertalite. Mau tidak mau, untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, warga terpaksa jalan kaki atau bersepeda. Sebab mereka hanya bisa mengakses solar untuk perahu.
"Warga memilih jalan kaki. Sebagian ada yang pakai sepeda," kata Muaziz.
Kondisi serupa juga dialami masyarakat di Pulau Parang. Petinggi Desa Parang, Zaenal Arifin mengatakan, warga selama ini hanya bisa beli pertalite kepada pengecer. Baik untuk kebutuhan motor, genset maupun kendaraan roda tiga.
Pengecer pun hanya bisa membelinya di SPBU Karimunjawa. Untuk sampai di SPBU, butuh waktu tempuh sekitar 2,5 jam perjalanan laut dengan kapal nelayan.
"Kalau solar, warga bisa beli (di SPBU) karena ada barcode untuk BBM kapal. Tapi kalau pertalite untuk kendaraan darat tidak ada," imbuh dia.
Zaenal menyebut, saat ini stok pertalite di wilayahnya semakin menipis. Pulau Parang hanya mendapat jatah 400 liter pertalite yang dibeli oleh pengecer sejak sepekan lalu.
Di sisi lain, pertalite tinggal tersedia di masing-masing tangki kendaraan warga dengan sangat terbatas dan terus berkurang. Jika kondisi ini terus berlangsung, maka dipastikan motor warga akan tergeletak begitu saja.
Menanggapi situasi itu, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Bagian Tengah (JBT), Taufiq Kurniawan memastikan pasokan BBM di Karimunjawa, baik solar maupun pertalite dalam kondisi aman.
"Pertalite dan solar dalam kondisi aman dengan pengiriman rutin setiap minggu," kata Taufiq, Rabu (1/4/2026).
Soal pembelian melalui pengecer, Taufiq menjelaskan bahwa sesuai dengan ketentuan, penyaluran BBM subsidi seperti peralite, tidak diperuntukkan untuk diperjualbelikan kembali secara eceran.
"Secara aturan memang tidak diperuntukkan diperjualbelikan lagi secara eceran," tegas Taufiq.
Oleh karena itu, lanjut Taufiq, pembelian di SPBU difokuskan langsung kepada konsumen yang berhak sesuai dengan mekanisme yang berlaku.
Editor: Supriyadi



