Perang AS-Israel vs Iran, Produsen Tempe di Jepara Terdampak
Faqih Mansur Hidayat
Kamis, 2 April 2026 20:48:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Perang tak berkesudahan antara AS-Israel vs Iran rupanya tak hanya berdampak pada sirkulasi bahan bakar minyak (BBM). Tetapi juga di sektor lain, seperti produksi tempe.
Masalahnya, sebagian produsen tempe di Jepara mengandalkan kedelai impor AS. Salah satunya adalah Nur Santo.
Sejak perang pecah, produsen tempe asal Desa Pecangaan Wetan, Kecamatan Pecangaan itu dibuat pusing tujuh keliling. Betapa tidak, harga kedelai per pekan ini tembus di angka Rp 11 ribu per kilogram.
”Padahal sebelum ada perang ini harganya Rp 8.600 per kilogram,” sebut Santo, Kamis (2/4/2026).
Kondisi kenaikan harga bahan baku tempe itu berlangsung sebelum ramadan lalu. Santo dan beberapa produsen tempe lainnya tak punya pilihan lain selain membeli kedelai impor dari AS.
Menurutnya, kedelai impor dari AS memiliki kelebihan berupa ukuran bijinya yang lebih besar dibanding kedelai lokal.
Bukan hanya kedelai, pengeluaran produksi Santo juga membengkak akibat harga plastik yang turut naik. Dari yang semula Rp 36 ribu per kilogram, sekarang menjadi Rp 70 ribu per kilogram.
”Plastik dan kedelai harganya naik bersamaan,” kata dia.
Harga Tempe Naik...
Meskipun harga bahan baku melejit, Santo masih belum berani menaikkan harga tempe. Dia bersama 36 produsen lainnya di desanya juga masih bertahan di harga normal.
Untuk menyiasati situasi ini, Santo terpaksa memperkecil ukuran tempe buatannya. Ada tiga ukuran. Yakni ukuran 17 x 9 sentimeter seharga Rp 2 ribu per potong, 22 x 9 sentimeter seharga Rp 2.500 per potong dan 2 meter yang akan dipotong-potong menjadi 15 x 7 sentimeter dan dijual Rp 4 ribu per potong.
”Masing-masing ukuran lebarnya rata-rata saya kurangi 0,5 sentimeter. Mau gimana lagi, terpaksa. Agar tidak merugi,” ujar dia.
Meskipun sudah mengurangi ukuran, rupanya omzet penjualannya ikut berkurang 5-10 persen dari biasanya. Meskipun sedikit, dia masih untung. Dalam sehari biasanya memproduksi 3 kwintal kedelai dengan dibantu empat karyawan.
”Harapannya harga segera turun. Supaya tidak terlalu menekan pendapatan kami. Supaya harganya juga bisa stabil lagi,” tandas dia.
Editor: Supriyadi



