Menengok Proses Jamasan Keris Kiai Cinthaka Sunan Kudus
Muhamad Fatkhul Huda
Kamis, 12 Juni 2025 11:49:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Selanjutnya, pusaka dibilas dengan banyu londho, air hasil fermentasi sekam ketan ireng, yang sudah menjadi tradisi. Setelah dibasuh, pusaka dikeringkan dengan sekam ketan ireng, kemudian direndam dengan warangan khusus yang didatangkan langsung dari Keraton Solo.
”Warangan yang kami gunakan memang khusus, asli dari Keraton Solo. Setelah itu, keris dan tombak dipastikan kering, lalu diberi minyak non alkohol, dipasangkan kembali dengan gagang dan warongko, dan disimpan di tempat semula,” jelasnya, Kamis (12/6/2025).
Tahun ini penjamasan keris dan tombak dilakukan bersamaan, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Setelah prosesi selesai, kegiatan ditutup dengan tahlilan, pembacaan Al-Quran, doa dan bancakan berupa sego opor panggang serta jajan pasar.
”Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan menjadi pengingat akan perjuangan serta ajaran luhur Sunan Kudus,” pungkasnya.
Editor: Zulkifli Fahmi



