Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Nama Haji Mas (HM) Ashadie mungkin tak sepopuler tokoh industri rokok Kudus lainnya. Namun jejaknya begitu besar dalam sejarah kretek Kudus, Jawa Tengah.
Lahir pada 1894, Ashadie merupakan putra sulung dari Atmowidjojo. Ia tak sekadar saudagar, namun juga sosok yang menanamkan nilai kerukunan dan spiritualitas dalam keluarga.
”Ashadie menunaikan ibadah haji di usia muda, 18 tahun, pada 1913. Setahun kemudian ia merintis usaha kreteknya bersama istri pertamanya Masamah,” ujar Pegiat di Komunitas Cerita Kudus Tuwa (CKT), Yusak Maulana, Minggu (29/6/2025).
Pada 1916. ia membuka pabrik kreteknya sendiri di rumah ayahnya, Dusun Tepasan, Desa Demangan, Kecamatan Kota, Kudus. Dua tahun berselang, Ashadie memisahkan diri dari usaha ayahnya dan mengeluarkan merek Cap Delima.
Istri Keduanya, Fatimah atau yang akrab disapa Mak Fat merupakan sosok legendaris dalam peracikan saus tembakau.
”Racikannya begitu legendaris sampai ada anekdot, rumput pun bisa laku kalau disausi Mak Fat,” katanya.
Antara 1926 hingga 1939, Pabrik Rokok Delima mencapai puncak kejayaan. Dengan sekitar 3.000 buruh dan jaringan distribusi meluas, Ashadie membangun 13 bangunan pabrik termasuk kompleks utama seluas 12.000 meter persegi.
Namun, usahanya goyah kala Jepang menduduki Indonesia. Aset-asetnya disita, harga bahan mahal membuat industrinya merana.
Peninggalannya...
- 1
- 2



