Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

 

Pada masa Perang Jawa (1825–1830), Tjondronegoro III berada di posisi sulit—di antara loyalitas kepada kerajaan dan tekanan kolonial.

”Ia bukan pejuang, tapi juga bukan penindas. Ia representasi dilema bangsawan Jawa,” jelasnya.

Puncak kejayaan trah ini terjadi setelah perang usai. Tjondronegoro III menjabat Bupati Kudus dan mewariskan jabatan itu kepada putranya, Tjondronegoro IV, pada 1834.

Empat dari lima putranya kemudian menjadi bupati di Kudus, Demak, Semarang, Jepara, dan Brebes. Menurut Imam, keluarga ini bukan sekadar elit tradisional.

”Mereka memelihara modal simbolik kehormatan, pendidikan, dan legitimasi sosial yang mereka ubah menjadi kekuatan politik,” katanya.

Kini, di tengah zaman yang serba cepat dan kehilangan arah moral, Imam Khanafi menilai kisah Tjandranegaran memberi pelajaran penting.

”Kekuasaan tanpa pengetahuan hanya melahirkan kesombongan, dan pengetahuan tanpa kerendahan hati akan kehilangan arah. Dari trah ini, kita belajar bahwa kemajuan harus tetap berpijak pada akar budaya sendiri,” pungkasnya.

Editor: Anggara Jiwandhana

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler