Untuk mengatasi kendala itu, Ngramen Farm berkolaborasi dengan UIN Sunan Kudus sebagai bagian dari akademisi untuk pengembangan ke depan.
”Tentunya dengan kerjasama ini kami akan berupaya membantu baik dalam hal riset, penerjunan mahasiswa magang, PKM, dan sebagainya. Kita ciptakan hubungan yang saling menguntungkan,” tegasnya.
Murianews, Kudus – Untuk pertama kalinya, budidaya udang galah dikembangkan di wilayah Pegunungan Muria, tepatnya di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Budidaya itu dilakukan Ngramen Farm Kudus yang dimotori Rio Krisdian. Pria asal Desa Colo yang cukup lama tinggal di Bandung itu mencoba inovasinya ke tanah Muria.
Rio mengatakan, sebelumnya mendapatkan inovasi pengembangan udang galah di Jawa Barat. Setelah sekian lama bergelut dengan hal tersebut, kini ia mencoba mengembangkannya di wilayah Kudus.
”Di sini kami mulai budidaya Desember 2024. Kami membawa 150-200 indukan dari Bandung, Jawa Barat. Sekarang sudah ada 18 kolam, setiap kolamnya ada 2.000 udang,” ujar Founder Ngramen Farm, Rio Krisdian, Senin (8/6/2026).
Saat ini, fokus pengembangan masih pada produksi induk untuk budidaya udang galah tersebut. Sebab, jumlahnya masih terbatas.
Meski demikian, ia sudah mencanangkan hasil budidaya udang galah tersebut mencapai ratusan ribu ekor, hingga dapat diperjual belikan.
Targetkan Ekspor...
Rio menargetkan capaian itu pada 2027 dan budidaya udang galahnya dapat berkembang pesat. Ia pun berharap dari tanah Muria dapat menghasilkan panen udang galah.
”Sebetulnya bisa kita jual, tapi saat ini masih butuh indukan karena targetnya 2027 kita sudah berkembang pesat. Terakhir panen kemarin bisa mencapai 1.500 ekor. Cita-citanya kita bisa ekspor lah, karena saya dulu pernah pengalaman ekspor,” jelasnya.
Founder Ngramen Farm, Rio Krisdian (oranye) saat meninjau kolam udang galah, Senin (8/6/2026). (Murianews/Muhamad Fatkhul Huda)
Udang galah, katanya, jenis udang yang khas dari Indonesia, Thailand, dan wilayah Asia Tenggara. Udang jenis ini memang khusus untuk budidaya air tawar sehingga cocok dilakukan di wilayah bukan pantai.
Proses pembibitan hingga panen itu ditaksir memakan waktu selama enam bulan. Kendala yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah masalah suhu dan pakan.
”Di daerah sini itu suhunya dingin, udang ini butuh suhu yang agak panas untuk tumbuh kembangnya. Kalau terlalu dingin dia tidak mau makan,” ungkapnya.
Gandeng UIN Sunan Kudus...
Untuk mengatasi kendala itu, Ngramen Farm berkolaborasi dengan UIN Sunan Kudus sebagai bagian dari akademisi untuk pengembangan ke depan.
Kaprodi Tadris Biologi UIN Sunan Kudus, Sanusi menyatakan, pihaknya siap untuk terlibat jauh dalam budidaya udang galah di Ngramen Farm. Ia akan menghimpun sejumlah dosen yang sekiranya memiliki kapasitas memadai dalam meriset dan menghadirkan inovasi baru.
”Tentunya dengan kerjasama ini kami akan berupaya membantu baik dalam hal riset, penerjunan mahasiswa magang, PKM, dan sebagainya. Kita ciptakan hubungan yang saling menguntungkan,” tegasnya.
Editor: Zulkifli Fahmi