Ia meletakkan alas seadanya di sudut lapak. Dengan itulah pedagang asal Bojonegoro ini tidur setiap malam selama Dandangan berlangsung.
”Saya datang dari Rabu. Tidurnya ya di sini, di tempat jualan,” kata Masrub, saat ditemui Murianews.com.
Sudah 20 tahun Masrub rutin datang ke Kudus setiap Dandangan digelar. Sehari-hari ia adalah petani. Namun, setahun sekali ia meninggalkan sawahnya, menyewa truk tetangga, dan membawa kereweng tanah liat untuk dijual di Dandangan.
Kereweng yang dijual Masrub sebagian dibuat sendiri. Tanah liat diambil dari alas (hutan), dibentuk dengan tangan, ditempel dan diukir satu per satu, lalu dibakar hingga matang. Proses pembakaran menjadi tahap paling krusial.
”Kalau bakarannya kurang tua, takutnya hancur. Tapi kalau matang betul, awet, kena hujan juga aman,” ujarnya.
Kereweng itu kemudian dicat dengan motif khas. Menurut Masrub, corak tersebut sudah digunakan sejak dulu.
Harga yang dipatok pun beragam, mulai dari Rp 3 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp 200 ribu untuk ukuran paling besar.
”Yang kecil biasanya dibeli anak-anak. Orang tua kadang beli yang besar buat pajangan,” katanya.
Murianews, Kudus – Langit malam menutupi Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di antara lapak-lapak Dandangan, Masrub tampak merapikan kereweng satu per satu.
Ia meletakkan alas seadanya di sudut lapak. Dengan itulah pedagang asal Bojonegoro ini tidur setiap malam selama Dandangan berlangsung.
”Saya datang dari Rabu. Tidurnya ya di sini, di tempat jualan,” kata Masrub, saat ditemui Murianews.com.
Sudah 20 tahun Masrub rutin datang ke Kudus setiap Dandangan digelar. Sehari-hari ia adalah petani. Namun, setahun sekali ia meninggalkan sawahnya, menyewa truk tetangga, dan membawa kereweng tanah liat untuk dijual di Dandangan.
Kereweng yang dijual Masrub sebagian dibuat sendiri. Tanah liat diambil dari alas (hutan), dibentuk dengan tangan, ditempel dan diukir satu per satu, lalu dibakar hingga matang. Proses pembakaran menjadi tahap paling krusial.
”Kalau bakarannya kurang tua, takutnya hancur. Tapi kalau matang betul, awet, kena hujan juga aman,” ujarnya.
Kereweng itu kemudian dicat dengan motif khas. Menurut Masrub, corak tersebut sudah digunakan sejak dulu.
Harga yang dipatok pun beragam, mulai dari Rp 3 ribu untuk ukuran kecil hingga Rp 200 ribu untuk ukuran paling besar.
”Yang kecil biasanya dibeli anak-anak. Orang tua kadang beli yang besar buat pajangan,” katanya.
Tak Selalu Ramai...
Namun berjualan kereweng tidak selalu ramai. Hujan menjadi tantangan terbesar. Saat hujan turun, pengunjung berkurang drastis dan lapak menjadi sepi.
”Kalau hujan, bisa cuma dapat Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Padahal biasanya sehari bisa Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu,” ucapnya.
Setiap kali Dandangan, Masrub berharap bisa mengantongi Rp 5 juta. Baginya, jumlah itu sudah cukup untuk menambah penghasilan keluarga. Meski demikian, alasan utamanya tetap sama dari tahun ke tahun.
”Kalau Dandangan, saya pasti ikut. Biar tradisinya tetap ramai dan kereweng nggak hilang,” katanya.
Cerita bertahan itu juga dialami Sukardi, pedagang kereweng asal Mayong Lor, Jepara. Ia sudah berjualan kereweng di Dandangan selama 30 tahun, sejak anaknya masih kecil hingga kini sudah bekerja.
”Dari anak saya kecil sampai sekarang sudah kerja, saya tetap jualan kereweng di sini,” ujar Sukardi.
Berbeda dengan Masrub, Sukardi tidak menginap di lapak. Setiap hari ia pulang pergi dari Jepara karena jaraknya yang dekat. Modal yang dikeluarkan pun tidak sedikit, sekitar Rp 8 juta, termasuk biaya angkut dan barang dagangan.
”Kadang balik modal, kadang ya ngepas,” katanya.
Warna Jadi Daya Tarik...
Kereweng yang dijual Sukardi kini lebih banyak berwarna-warni untuk menarik perhatian anak-anak. Meski begitu, kereweng warna hitam masih tetap dibuat, meski peminatnya lebih sedikit.
”Biasanya orang tua yang cari yang hitam. Tapi memang yang cepat laku sekarang yang warna-warni,” ujarnya.
Bagi Sukardi, bertahan berjualan kereweng bukan semata soal untung rugi. Ia khawatir, jika tidak ada lagi yang menjual kereweng, tradisi Dandangan akan kehilangan salah satu ciri khasnya.
”Kalau nggak ada yang jual kereweng, rasanya kurang. Ini kan tradisi dari dulu,” katanya.
Di tengah gempuran mainan modern dan cuaca yang tak menentu, Masrub dan Sukardi tetap bertahan dengan kerewengnya. Selama Dandangan masih digelar, kereweng akan terus mereka bawa dari tangan perajin hingga ke tangan anak-anak yang memainkannya.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik
Editor: Supriyadi