Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.


MURIANEWS, Blora – Di tangan perajin kayu, limbah kayu jati ternyata bisa memiliki nilai jual yang lebih. Salah satunya, perajin kayu asal Desa Tempellemahbang, Kecamatan Jepon, Kabupaten Blora, Roisah.

Perajin kayu berusia 45 tahun itu, berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Korea Selatan berkat mengolah limbah kayu jati. Bahkan, dalam setahun ia mampu mengekspor hingga 12 kontainer.

”Ya bisa di dibilang sebulan satu kontainer untuk diekspor,” jelas roisah, Kamis (25/08/2022).

Baca: Ekspor Produk Kayu Jati Blora Terus Didorong

Ia menceritakan, saat virus corona mewabah, usahanya memang sempat terpuruk. Namun, setelah mulai mereda, industry mebelnya pun mulai bangkit. Kini, ia terus meningkatkan produksinya dengan kualitas ekspor.

Menurutnya, kayu jenis apapun memiliki nilai jual. Itu termasuk limbah kayunya.

”Kayu jenis apa aja bisa masuk. Memang memanfaatkan limbah, karena yang kayu besar-besar jarang laku. Mereka (warga luar indonesia) lebih suka yang kecil,” imbuhnya.

Dari tangannya, limbah-limbah kayu itu diolah menjadi ayunan, tatakan bunga, meja, kursi, hingga beragam kerajinan lainnya. Tentunya, produk-produk bikinannya itu sesuai pesanan.

“Ya sesuai pesanan, untuk saat ini ekspor yang dilakukan baru korea (selatan) belum ke negara lain,” ucapnya.
“Ya sesuai pesanan, untuk saat ini ekspor yang dilakukan baru korea (selatan) belum ke negara lain,” ucapnya.Harga jual kerajinan kayu dan mebelnya bervariasi. Variasi harga itu berbeda antara yang dijual di Indonesia dengan ekspor.”harga kalau di sini Rp 500 ribu sampai sana bisa Rp 1 juta. Bahkan bisa lebih, tergantung kualitasnya,” imbuhnya.Dalam menjalankan ekspor itu juga ia tak menghadapi kendala yang berarti. Sebab, bahan baku masih melimpah.”paling kendala saat finishing saja, kendala lain tidak ada,” ungkapnya.Saat ini, industri mebel dan kayu miliknya setidaknya memiliki kurang lebih 20 karyawan. Mereka merupakan warga desa setempat dan sekitarnya.”kami juga berdayakan warga sekitar, untuk bekerja disini,” pungkasnya. Kontributor BloraEditor: Zulkifli Fahmi

Baca Juga

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler