Wabup juga menyampaikan terima kasih kepada tim kesehatan dan mengonfirmasi langkah tegas telah diambil terhadap penyedia program MBG. Untuk selanjutnya, semua pihak menunggu perkembangan lebih lanjut.
"Kami berterima kasih dari DKK yang langsung bergerak atas kejadian kemarin. Kami bersama tim satgas sudah melakukan investigasi lapangan," katanya.
Sementara itu, Nur Betsia Bertawati, Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora (Dinkesda Blora), memberikan data terbaru mengenai dampak kesehatan yang dialami para siswa yang diduga keracuna menu MBG. Dinkesda Blora telah memiliki beberapa progres penyelidikan dalam kasus ini.
"Diduga keracunan makanan MBG tercatat 122 kasus, di mana 117 kasus ditangani rawat jalan dan 5 kasus memerlukan rawat inap. Saat ini, yang masih dirawat inap ada 3 pasien di RS DKT dan 1 pasien di RSUD dr. Soetijono Blora,” jelasnya.
Tim Dinkesda Blora juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dan kunjungan langsung ke lokasi SPPG yang bersangkutan. Sampel menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan sudah diambil dan dikirim ke laboratorium.
"Dinkesda Blora sudah melakukan penyelidikan epidemiologi, sudah kunjungan ke SPPG. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan sampel ke Labkes ke Semarang, untuk hasil sekitar 1 Minggu," tutupnya.
Dinkesda Blora mengimbau masyarakat untuk tenang dan menunggu hasil lab yang akan segera diketahui. Hasil laboratorium mikrobiologi dari sampel menu MBG tersebut akan dasar penentuan penyebab pasti insiden keracunan massal ini.
Murianews, Blora - Pemerintah Kabupaten Blora bergerak cepat menyikapi kasus dugaan keracunan makanan massal yang menimpa ratusan siswa beberapa sekolah di Blora. Mereka diduga keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Wakil Bupati Blora, Sri Setyorini yang juga Ketua Satgas Makanan Bergizi Gratis Kabupaten Blora (MBG Blora) menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh pasca-insiden ini.
Ia juga memastikan dapur MBG Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah dihentikan sementara operasionalnya oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Penyelidikan atas kasus ini akan dilakukan secara intensif.
"Untuk SPPG (penyedia MBG) bersangkutan dihentikan sementara. Per tanggal 28 November, sampai hasil Lab (Laboratorium) dinyatakan keluar," tegas Sri Setyorini, baru-baru ini.
Wabup Sri Setyorini juga menyatakan, Satgas MBG Blora telah menggelar rapat koordinasi untuk menentukan langkah-langkah strategis selanjutnya. Tetapi tetap ditekankan, terlepas dari insiden ini, program MBG Blora pada dasarnya masih sangat dibutuhkan oleh para siswa di Kabupaten Blora.
Setelah mengunjungi korban dugaan keracunan MBG di Rumah Sakit DKT Blora, Wakil Bupati Sri Setyorini menyampaikan program MBG pada dasarnya harus tetap berjalan. Namun demikian memang harus dibarengi dengan pengawasan ketat.
"Setelah berkunjung ke RS DKT, saya melihat bahwa MBG ini diinginkan untuk berlanjut oleh siswa yang memang membutuhkan. Namun, setiap ada laporan berkaitan dengan MBG, kami selaku satgas selalu kami evaluasi, kemudian tindaklanjuti ke provinsi," ujar Sri Setyorini.
Hasil Lab...
Wabup juga menyampaikan terima kasih kepada tim kesehatan dan mengonfirmasi langkah tegas telah diambil terhadap penyedia program MBG. Untuk selanjutnya, semua pihak menunggu perkembangan lebih lanjut.
"Kami berterima kasih dari DKK yang langsung bergerak atas kejadian kemarin. Kami bersama tim satgas sudah melakukan investigasi lapangan," katanya.
Sementara itu, Nur Betsia Bertawati, Sekretaris Dinas Kesehatan Daerah Kabupaten Blora (Dinkesda Blora), memberikan data terbaru mengenai dampak kesehatan yang dialami para siswa yang diduga keracuna menu MBG. Dinkesda Blora telah memiliki beberapa progres penyelidikan dalam kasus ini.
"Diduga keracunan makanan MBG tercatat 122 kasus, di mana 117 kasus ditangani rawat jalan dan 5 kasus memerlukan rawat inap. Saat ini, yang masih dirawat inap ada 3 pasien di RS DKT dan 1 pasien di RSUD dr. Soetijono Blora,” jelasnya.
Tim Dinkesda Blora juga telah melakukan penyelidikan epidemiologi dan kunjungan langsung ke lokasi SPPG yang bersangkutan. Sampel menu MBG yang diduga menjadi penyebab keracunan sudah diambil dan dikirim ke laboratorium.
"Dinkesda Blora sudah melakukan penyelidikan epidemiologi, sudah kunjungan ke SPPG. Saat ini masih dilakukan pemeriksaan sampel ke Labkes ke Semarang, untuk hasil sekitar 1 Minggu," tutupnya.
Dinkesda Blora mengimbau masyarakat untuk tenang dan menunggu hasil lab yang akan segera diketahui. Hasil laboratorium mikrobiologi dari sampel menu MBG tersebut akan dasar penentuan penyebab pasti insiden keracunan massal ini.
Editor: Budi Santoso