Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Blora – Tradisi Manganan Janjang kembali digelar meriah di Desa Janjang, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, Jumat (27/3/2026). Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kompleks Makam dan Tapaan Mbah Janjang sejak pagi hari.
Dengan berjalan kaki menaiki ratusan anak tangga, para peziarah datang membawa ambeng berisi ingkung ayam dan nasi berkat. Hidangan tersebut kemudian dibagikan secara gratis kepada pengunjung sebagai bentuk rasa syukur atas hasil bumi selama setahun terakhir.
Tak hanya warga, pemerintah desa juga turut berpartisipasi dengan menyembelih sapi dan kambing. Dagingnya dimasak bersama dan dibagikan kepada para peziarah, memperkuat nilai kebersamaan dalam tradisi Manganan Janjang ini.
Keunikan Manganan Janjang terletak pada penyajian makanan yang dibungkus daun jati. Ribuan daun jati disiapkan panitia sebagai alas pembagian nasi berkat, menciptakan sensasi rasa khas yang sederhana namun menggugah selera.
Selain itu, suasana semakin semarak dengan pertunjukan seni wayang krucil, kesenian khas Janjang yang menjadi warisan Mbah Jatikusuma Jatiswara. Tradisi ini menjadi simbol kuat pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi.
Sumirah (56), warga Bojonegoro, mengaku telah enam kali mengikuti tradisi Manganan Janjang ini. Awalnya hanya untuk ziarah, kini ia ikut bersedekah dengan membawa ambeng.
“Acaranya guyub dan penuh kebersamaan. Senang bisa berbagi,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Adit (25), pengunjung asal Rembang, yang baru pertama kali hadir di acara Manganan Janjang.
“Meski lokasinya pelosok, ternyata ramai sekali. Suasananya adem dan tradisinya masih kuat,” katanya.
Bupati Blora, Arief Rohman, yang turut hadir bersama jajaran pemerintah daerah, menyebut Manganan Janjang sebagai salah satu tradisi sedekah bumi terbesar di wilayahnya.
Menurutnya, tradisi ini tidak hanya mempererat kebersamaan warga, tetapi juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan ekonomi desa. Ratusan pedagang tampak memadati area menuju makam, memanfaatkan momen ini untuk mencari rezeki.
Warisan Budaya Tak Benda...
- 1
- 2



