Ia pun menyebutkan, kasus Tuberkulosis di Kabupaten Blora pada tahun 2024 mencapai 1.485 kasus. Namun, jumlah ini meningkat pada tahun 2025, dan tembus menjadi 1.676 kasus.
Sementara di tahun ini sudah ada 350 kasus positif TBC yang ditemukan di Blora. ”Kami mohon bimbingannya dalam penanganannya. Kami ada tiga RSUD, yang siap dimaksimalkan,” terangnya.
Mas Arief menyebut sebagai salah satu upaya pencegahan, pihaknya telah melaksanakan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Namun dalam implementasinya, masih terdapat berbagai kendala di lapangan, baik dari sisi kesadaran masyarakat maupun jangkauan layanan.
Berbagai daerah di Indonesia telah menunjukkan bahwa integrasi skrining TB dengan pelayanan kesehatan gratis mampu meningkatkan penemuan kasus dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
”Hal ini menjadi bukti bahwa upaya promotif dan preventif harus terus diperkuat. Kami juga menyadari untuk TBC ini butuh peran bersama. Karena itu, mari kita bersama-sama mewujudkan blora sehat dan bebas TBC,” tandasnya.
Murianews, Blora – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, dr Benjamin Paulus Octavianus melakukan kunjungan ke Desa Tunjungan, Kabupaten Blora, pada Rabu (22/4/2026).
Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung pelaksanaan Active Case Finding (ACF) TB yang diintegrasikan dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Langkah ”jemput bola” ini dilakukan untuk memutus rantai penularan TBC yang angkanya masih cukup mengkhawatirkan di tingkat nasional maupun daerah.
Dalam tinjauannya, dr Benjamin menegaskan bahwa kunci keberhasilan penanganan TBC adalah ketuntasan pengobatan dan pencegahan pada lingkaran terdekat pasien.
”Penderita TBC harus langsung diberi pengobatan rutin selama 6 bulan. Tak hanya itu, keluarga penderita juga wajib diberikan obat pencegahan agar tidak tertular,” ujar Wamenkes.
Ia mencontohkan, jika ditemukan 1.600 kasus, maka idealnya ada 6.000 orang di sekitar pasien yang harus di-tracking. Langkah ini termasuk pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak erat yang hasil rontgennya negatif namun berisiko tinggi.
”Kita ingin skema TB ini berhasil di Blora. Dengan begitu jika ada warga yang terdeteksi TBC dapat segera diobati. Kontak serumah atau kontak erat yang tidak menunjukkan gejala dan hasil rontgen negatif akan diberikan TPT sebagai langkah pencegahan,” ungkapnya.
Sementara itu Bupati Blora Arief Rohman mengakui Tuberkulosis masih menjadi tantangan kesehatan yang serius, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Kasus Meningkat...
Ia pun menyebutkan, kasus Tuberkulosis di Kabupaten Blora pada tahun 2024 mencapai 1.485 kasus. Namun, jumlah ini meningkat pada tahun 2025, dan tembus menjadi 1.676 kasus.
Sementara di tahun ini sudah ada 350 kasus positif TBC yang ditemukan di Blora. ”Kami mohon bimbingannya dalam penanganannya. Kami ada tiga RSUD, yang siap dimaksimalkan,” terangnya.
Mas Arief menyebut sebagai salah satu upaya pencegahan, pihaknya telah melaksanakan pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT). Namun dalam implementasinya, masih terdapat berbagai kendala di lapangan, baik dari sisi kesadaran masyarakat maupun jangkauan layanan.
Berbagai daerah di Indonesia telah menunjukkan bahwa integrasi skrining TB dengan pelayanan kesehatan gratis mampu meningkatkan penemuan kasus dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan secara rutin.
”Hal ini menjadi bukti bahwa upaya promotif dan preventif harus terus diperkuat. Kami juga menyadari untuk TBC ini butuh peran bersama. Karena itu, mari kita bersama-sama mewujudkan blora sehat dan bebas TBC,” tandasnya.
Editor: Supriyadi