Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Grobogan – Masyarakat Dusun Medang, Desa Banjarejo, Gabus, Grobogan, Jawa Tengah menggelar tradisi ”perang” dawet, Jumat (3/11/2023). Tradisi unik ini dilakukan sebagai wujud permohonan agar hujan segera turun di wilayah setempat.

Tradisi yang digelar setiap kemarau panjang ini dilangsungkan di pasujudan Ajisaka. Bagi warga setempat, Ajisaka dianggap sebagai leluhur.

Acara dimulai dengan pembacaan doa oleh sesepuh desa setempat. Saat itu, ratusan warga berteduh di bawah pohon trembesi.

Ratusan warga itu telah menyiapkan dawet yang dibawa dari rumah dengan berbagai wadah. Seperti ember, plastik, tempat air minum hingga plastik.

Usai pembacaan doa, tanpa aba-aba warga langsung berhamburan melempar dawet ke warga lainnya. Pakaian warga pun belepotan terkena dawet.

Juru Kunci Pasujudan Ajisaka Busroni mengatakan, tradisi tersebut digelar untuk memohon kepada Tuhan agar hujan turun. Sebab, kekeringan di wilayah setempat sudah berlangsung berbulan-bulan.

”Tujuan dari tradisi perang cendol ini, yakni memohon kepada Tuhan agar segera menurukan hujan. Cendol dawet dalam tradisi ini hanya merupakan sarana saja,” kata dia.

Busroni mengatakan, kekeringan yang terjadi sudah lebih dari enam bulan. Karenanya, ketersedian air bersih bagi masyarakat setempat semakin menipis.

Lebih lanjut, Basroni menyebut, tradisi perang dawet itu selalu dilakukan saat kemarau panjang melanda. Acara yang selalu diikuti ratusan warga itu digelar pada Jumat Pon.

”Ini inisiatif warga. Sejak saya masih kecil tradisi ini sudah dilakukan. Semoga hujan segera turun di desa kami, sehingga petani bisa cepat bercocok tanam,” imbuhnya.

Editor: Dani Agus

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler