Kedelai Impor Makin Mahal, Pengusaha Tempe di Grobogan Tipiskan Ukuran
Saiful Anwar
Rabu, 8 April 2026 13:43:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Grobogan – Pengusaha tempe di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah terpaksa menipiskan tempenya dalam beberapa pekan terakhir.
Hal itu menyusul naiknya biaya impor kedelai dari Amerika Serikat imbas konflik di Timur Tengah. Dampaknya, harga kedelai juga ikut melambung.
Bisri Mustofa, salah satu pengusaha tempe asal Kelurahan/Kecamatan Purwodadi menyebut harga kedelai naik cukup signifikan. Alih-alih menaikkan harga jualnya, Bisri memilih mengurangi isi tiap satu bungkus tempe.
”Harganya tidak kita naikkan, tapi isinya dikurangi. Biasanya satu bungkus 4 ons, sekarang dikurangi. Kemarin-kemarin satu kilogram kedelai bisa jadi 10 bungkus, sekarang jadi 12 bungkus,” ujarnya saat ditemui, Rabu (8/4/2026).
Sebelum terimbas perang di Timur Tengah, harga kedelai impor sekitar Rp 9 ribu per kg. Setelah konflik meletus, kini kedelai naik hampir Rp 11 ribu per kg.
Ia menjelaskan, dengan menipiskan tempe, harga jualnya bisa tetap sama dengan sebelum kenaikan kedelai. Tempe ukuran 20x12 cm harganya tetap Rp 3 ribu dan 22x12 cm tetap Rp 4 ribu.
Kendati kedelai impor naik, namun Bisri mengaku belum ada niatan untuk mengambil kedelai lokal sebagai bahan produksi. Namun, harganya yang tidak stabil membuatnya berpikir ulang.
”Pada saat panen bisa di bawah impor harganya (kedelai lokal). Tapi kalau tidak panen, harganya di atas impor,” bebernya.

Foto: Pengusaha tempe di Kelurahan Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah menunjukkan produknya. (Murianews/Saiful Anwar).
Kedelai Lokal...
- 1
- 2



