Dari Luberan Lumpur, Petani Garam Bledug Kuwu Grobogan Kais Rezeki
Saiful Anwar
Sabtu, 6 Juni 2026 14:08:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Di musim kemarau seperti sekarang ini, garam lebih cepat jadi karena tak ada hujan. Jika musim hujan, petani garam mesti bersabar karena butuh waktu lebih lama.
Sebab, jika air letupan Bledug Kuwu tercampur air hujan, tak bisa jadi garam. Petani garam di kawasan Bledug Kuwu, baru bisa memproduksi lebih banyak saat musim kemarau.
Sutomo mengklaim garam dari Bledug Kuwu berbeda dengan garam yang dihasilkan langsung dari laut. Baunya tidak amis seperti garam laut.
"Garam pantai dicium amis, di sini tidak amis," bebernya.
Selain menjual garam, para petani garam juga menjual lumpur dari luberan Bledug Kuwu. Mereka mengklaim lumpurnya bisa mengencangkan kulit.
Lumpur-lumpur yang disebutnya mengandung belereng itu pun diwadahi di botol mineral kemasan tanggung dan dijual Rp 5 ribu per botol.
"Lumpurnya juga banyak manfaatnya buat kulit. Mengencangkan, membersihkan pori-pori. Di sini Rp 5 ribu per botol," ujar petani garam Bledug Kuwu ini.
Editor: Budi Santoso



