Kisah Pilu Nenek di Pati: Hidup Sebatang Kara di Gubuk 3×4 Meter
Umar Hanafi
Jumat, 9 Januari 2026 17:17:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Pati – Seorang nenek berusia 68 tahun di Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati mengalami kisah pilu. Nenek bernama Mbah Srinah itu menjalani sisa usianya dengan hidup sebatang kara di sebuah gubuk.
Kediamannya jauh dari kata layak. Berdinding kalsiboard dan beratap asbes yang sebagian sudah rusak, gubuk berukuran 3×4 meter itu digunakannya sebagai tempat tidur sekaligus dapur.
Saat malam tiba, suara jangkrik dan dinginnya angin menjadi teman setia. Saat hujan turun, ia hanya bisa berharap air tak terlalu deras menembus atap rapuh tempatnya berteduh.
Sebenarnya lahan tempat tinggalnya itu bukan miliknya. Ia dipinjami tetangganya untuk menampati lahan tersebut untuk mendirikan gubuk. Nenek usia 68 tahun itu, tinggal di kebun tersebut sudah sekitar 10 tahun. Suaminya, sudah meninggal. Dua anaknya tak ada yang menemaninya.
Kisah pilu Mbah Srinah tak berhenti di sana. Mbah Srinah juga menjalani hidup tanpa penghasilan. Untuk makan, ia sepenuhnya bergantung pada uluran tangan warga sekitar. Kadang ada tetangga yang mengantarkan sepiring nasi beserta lauk sederhana.
Mbah Srinah bukannya tanpa alasan tinggal sebatang kara. Ia merasa tak mau merepotkan bila menumpang di rumah anaknya yang sudah berumah tangga. Saat ini, kedua anaknya sudah tinggal di luar desa tersebut, salah satunya di Jepara.
”Mboten purun ngrepotke, teng mriki mawon (tidak mau merepotkan, di sini saja),'” ungkap Mbah Srinah.
Bantuan Pemerintah...
- 1
- 2



