Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Pati – Masih sedikit umat Islam di Jawa Tengah yang mengenal Sunan Maqdum Pati. Padahal, pendakwah yang hidup di abad 14-15 M ini diyakini menjadi pemimpin Walisongo generasi pertama.

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman Al Mahdum atau masyarakat Pati dan sekitarnya lebih mengenalnya sebagai Sunan Maqdum atau Sunan Makdum. Jasadnya disemayamkan di Makam Parenggan, Kelurahan Perenggan, Kecamatan Pati Kota.

Juru kunci Makam Sunan Maqdum, M Suyuti menjelaskan, berdasarkan sejarah yang didapatkannya dan dari Dinas Kebudayaan Pati, Sunan Maqdum hidup di masa kekhalifahan Sultan Muhammad I atau Mehmed I Çelebi (1386-1421 M).

”Beliau diutus oleh Sultan Muhammad I, Raja dari Utsmaniyah untuk menyelidiki situasi masyarakat di Indonesia. Saat itu, Jawa berada di bawah Kerajaan Majapahit dan Pajajaran yng menganut agama Hindu-Buddha. Ada sebagian muslim tapi minoritas,” ujar Suyuti kepada Murianews.com.

Setelah mendapatkan informasi tentang keadaan Nusantara, khususnya Jawa, lanjut Suyuti, Sunan Maqdum kembali ke Turki. Namun, ia hanya singgah sebentar di Kerajaan Bani Utsmaniyah. Sultan Mehmed I memerintahkannya kembali ke Jawa untuk menyebarkan IsIam.

”Beliau tidak sendirian. Ada sahabat yng mendampingi. Yaitu Syekh Subakir dan Maulana Maghribi. Ketiganya kemudian berangkat menggunakan kapal dan singgah di Aceh,” tutur Suyuti.

Mereka kemudian berpencar dan menyebarkan IsIam di Jawa. Sebelum ke Jawa, Sunan Maqdum singgah ke Pulau Madura.

”Terus terakhir kali di Pulau Muria. Saat itu Pati masih masuk Pulau Muria sampai wafatnya di Parenggan,” unggap dia.

Mengajarkan tentang Tauhid... 

Dalam menyebarkan IsIam, Sunan Maqdum lebih fokus mengajarkan tentang tauhid atau ketuhanan. Pendekatan ini dinilai lebih cocok menghadapi masyarakat Jawa saat itu.

”Beliau mengenalkan ajaran tauhid,” kata dia.

Tidak diketahui waktu wafatnya Sunan Maqdum. Meskipun demikian, Suyuti dan kebanyakan masyarakat menyakini Sunan Maqdum wafat di awal abad 15. Sunan Maqdum juga diyakini pimpinan Walisongo generasi pertama

”(Dakwahnya) diteruskan generasi berikutnya yaitu generasi Walisongo yang terkenal. Sekarang Walisongo sudah delapan generasi,” ungkap dia.

Dirinya mengakui masih minim literasi tentang Sunan Maqdum. Meskipun demikian, jasa Sunan Maqdum patut diapresiasi.

”Sejarahnya masih simpang siur. Tapi beliau berjasa. Mungkin saja bila tidak ada wali, kita belum ada masjid dan musala. Maka kita harus hormati jasa wali yang syiar Islam,” tandas dia.

Editor: Dani Agus

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler