Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Ternyata, lokasi yang menjadi tempat dakwah Sunan Maqdum langganan banjir. Pemuka agama setempat pun menggelar sayembara. Barang siapa yang berhasil menghentikan banjir, maka akan diberikan hadiah tanah.
”Dulu ada padepokan hindu. Di sini sering banjir karena di sini ada sungai. Terus dari pemuka agamanya mengadakan sayembara, barang siapa bisa menghentikan banjir akan dikasih tempat atau tanah,” ungkap M Suyuti.
Sunan Maqdum pun menyanggupi. Ia menjawab tantangan itu dengan berujar ’Nggeh nek diparengke angrenggani’ (Ya, kalau dikasih saya hargai). Kata ’angrenggani’ pun digunakan untuk menamai tempat tersebut menjadi Parenggan.
”Terus dijawab Mbah Sunan Maqdum, ’nggeh nek diparengke angrenggani’. Makanya jadi Desa Parenggan sampai sekarang. Dulu namanya apa saya tidak tahu,” tandas dia.
Sunan Maqdum pun menatap dan berdakwah di Parenggan hingga akhir hayatnya. Jasadnya disemayamkan di Makam Parenggan. Selain Makam Sunan Maqdum, makam Islam kuno juga menguasi kompleks pemakaman tersebut. Menjadi bukti bahwa abad 15 agama IsIam sudah tersebar luas di Parenggan.
Editor: Supriyadi



