Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Pati – Banjir rob di Desa Tunggulsari, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah semakin parah dalam dua tahun terakhir ini. Selain faktor alam, biang kerok fenomena tersebut diduga karena penggunaan air tanah secara masif.

Kepala Desa Tunggulsari, Setyo Wahyudi mengungkapkan penggunaan sumur air tanah dalam ini mulai marak sejak warga beralih ke budidaya ikan nila pada 2016 lalu.

”Selain alam, memang mulai tahun 2016 itu di desa kami ada budi daya ikan nila salin, sehingga penggunaan sumur air dalam ini tidak bisa terkendali,” katanya, Selasa (9/6/2026).

Berdasarkan pendataan yang dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Tunggulsari, setiap tahunnya jumlah sumur bor terus meningkat. Kini, angkanya sudah mencapai 342 titik.

Rinciannya, 238 di permukiman dan 104 di area tambak. Masifnya penggunaan air tanah dalam ini menyebabkan sumur konvensional sudah tak keluar mata airnya.

”Jumlah sumur air dalamnya itu ada sekitar 342 titik, di mana yang sektor perikanan budi daya itu mencapai 104 titik dengan kedalaman minimal 90 meter dengan diameter paralon 4 ins,” ungkap dia.

Penurunan Tanah... 

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler