Koleksi Manusia Purba Museum Patiayam Kudus Terbatas
Vega Ma'arijil Ula
Kamis, 25 Januari 2024 18:28:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Koleksi manusia purba di Museum Patiayam Kudus, Jawa Tengah terbatas, tidak sebanyak di Museum Manusia Purba Sangiran.
Petugas Museum Patiayam Jamin mengatakan, letak geografis mempengaruhi temuan fosil manusia purba. Jamin menjelaskan, manusia purba di zamannya hidup di area dekat sungai.
Area dekat sungai ini seperti yang terjadi di kawasan situs Sangiran. Dirinya menyebut kawasan situs Sangiran dahulunya merupakan cekungan sungai Bengawan Solo.
”Makanya banyak ditemukan manusia purba di kawasan situs Sangiran. Hal ini berbeda dengan situs Patiayam,” katanya kepada Murianews, Kamis (25/1/2024).
Menurut Jamin, kawasan situs Patiayam tidak berada di area sungai. Kawasan situs Patiayam dahulu merupakan laut yang kemudian perlahan menjadi daratan.
”Sehingga tidak ada aktivitas manusia purba yang identik dengan aktivitas di tepi sungai,” sambungnya.
Kendati demikian, bukan berarti tidak ada temuan manusia purba di kawasan situs Patiayam. Jamin menyampaikan, di kawasan Patiayam yang masuk wilayah Kabupaten Kudus dan sebagian merupakan wilayah Kabupaten Pati pernah ditemukan fosil manusia purba.
Data yang dihimpun Murianews, setidaknya beberapa kali ada penemuan fosil manusia purba kelompok homonid atau Homo Erectus pada tahun 1979 hingga 2017 di lokasi yang berbeda.
Pada tahun 1979 fosil bagian tubuh manusia purba ditemukan di Dukuh Karang Sudo, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Lokasinya berada di sebelah utara tempat wisata Gardu Pandang.
”Di tahun 1979 saya mendengar kabar ada temuan fosil kepala tengkorak manusia purba pecah jadi empat. Kemudian ada jari kelingking dan gigi geraham,” sambungnya.
Fosil manusia purba yang ditemukan di 1979 itu merupakan tipe Homo Erectus Arkaik. Jamin menjelaskan, Homo Erectus Arkaik merupakan manusia purba yang belum maju cara berpikirnya.
Dirinya menjelaskan, Homo Erectus dibagi dua. Ada Homo Erectus Arkaik dan Homo Erectus Tipik atau tipikal. Untuk Arkaik ini volume otaknya kurang dari 1.000 cc, sehingga belum berpola pikir maju. Cara bertahan hidupnya dengan cara mencari makan menggunakan alat seadanya seperti batu.
Sedangkan Homo Erectus Tipik merupakan manusia purba yang memiliki volume otak di atas 1.000 cc. Sehingga pola pikirnya sudah maju dan mampu berpikir untuk bercocok tanam.
Saat itu, temuan fosil manusia purba tersebut kemudian dibawa ke laboratorium Institut Teknologi Bandung (ITB). Hal itu dilakukan karena saat itu belum ada Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran.
Di tahun 2017 ada temuan fosil kaki kiri Homo Erectus Tipik berada di Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Temuan tersebut saat itu langsung dibawa oleh pihak BPSMP Sangiran untuk dicek laboratorium.
Di tahun yang sama juga ditemukan fosil gigi manusia purba. Lokasi penemuan di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus. Lokasinya juga tidak jauh dari tempat wisata Gardu Pandang.
”Di Patiayam ini kemungkinan ada temuan fosil manusia purba. Hanya jumlahnya tidak begitu banyak seperti di Sangiran,” terangnya.
Editor: Cholis Anwar



