Sampah di Waduk Wilalung Kudus Akan Segera Dibersihkan
Vega Ma'arijil Ula
Rabu, 7 Februari 2024 23:29:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Keberadaan sampah di waduk Wilalung, Undan, Kudus, Jawa Tengah, akan segera dibersihkan. Namun pembersihan sampah itu masih akan menunggu debit air di angka 400 m3/detik.
Ada banyak beragam sampah yang menggunung di waduk Wilalung. Mulai sampah rumah tangga, dedaunan, ranting pohon, batang pohon, plastik, botol mineral, dan lainnya.
Operator Waduk Wilalung, Karno menjelaskan, pembersihan sampah-sampah itu tidak dapat dilakukan saat debit air masih tinggi. Sampai Rabu (7/2/2024) siang, debit air waduk Wilalung masih di angka 1100 M3/detik.
Sampah-sampah tersebut mengapung dan menumpuk di air dalam waduk Wilalung atau Bendung Wilalung ini. Sehingga bisa saja menimbulkan masalah pada fungsi pintu air di waduk ini.
”Permasalahan sampah setiap tahun selalu ada.Tidak perlu khawatir, nanti kami angkat ke darat saat debit air sudah 400 meter kubik per detik,” katanya, Rabu (7/2/2024).
Jika dipaksakan mengangkat sampah saat ini, menurut Karno akan menimbulkan resiko. Jika debit air sudah menurun, pihaknya akan segera membersihkannya dengan menggunakan excavator.
”Kami saat ini masih menunggu debit airnya 400 meter kubik per detik. Perkiraannya kapan debit air bisa 400 meter kubik per detik kami belum tahu,” sambungnya.
Sampah yang menumpuk di waduk Wilalung dimungkinkan berasal dari masyarakat sekitar. Selain itu juga berasal dari sampah yang di buang atau masuk ke sungai di sepanjang aliran di wilayah hulu.
Editor: Budi Santoso



