Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Kudus – Waduk Wilalung atau Bendung Wilalung, yang berada di Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, ternyata berusia lebih dari 100 tahun. Meski demikian fungsi dan kegunaannya masih tetap berjalan.

Menyusul kejadian banjir Grobogan, nama Waduk Wilalung kini kerap disebut oleh banyak orang. Waduk atau bendungan ini memegang peran penting, terhadap keamanan kabupaten Kudus dan Pati, dari ancaman banjir.

Sebagai bagian dari sistem pengendali banjir di Jawa Tengah, keberadaan Waduk Wilalung sangat penting sejak ratusan tahun. Bagunan ini, seperti dilansir dari banyak sumber, dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahu 1916.

Masyarakat Kudus dan sekitarnya mengenal bangunan ini dengan berbagai sebutan. Diantaranya ada yang menyebut sebagai Pintu Air Wilalung, Kedung Wilalung, Bendung Wilalung, atau Pintu Banjir Wilalung.

Bangunan ini, jika dilihat dari tahun pembangunannya, tentulah masuk dalam bangunan bersejarah yang perlu dilestarikan. Namun lebih dari itu, fungsi dan kegunannya masih dibutuhkan, membuat Waduk Wilalung harus dipertahankan dengan baik.

Bagi masyarakat Undaan, di Kabupaten Kudus, Waduk Wilalung akan selalu menjadi pusat perhatian disaat musim penghujan tiba. Karena dari pintu-pintu air yang ada di Waduk Wialung inilah, saluran air di sepanjang Undaan dipertaruhkan.

Pada musim penghujan yang saat ini mulai terjadi, kedatangan air dalam jumlah besar dari wilayah hulu telah menimbulkan kekhawatiran. Menyusul banjir Grobogan, membuat semua pemangku kebijakan di wilayah sekitar Kabupaten Grobogan, harus waspada.

Dari data teknis yang banyak disebut, pintu air Wilalung memiliki kemampuan menampung debit aliran sebesar 1.350 m3/det. Rinciannya, dilewatkan pada dua pintu yang mengarah ke Sungai Wulan sebesar 350 m3/det . Kemudian yang dilewatkan ke sembilan pintu arah Sungai Juwana sebesar 1.000 m3/det.

Pada saat ini, Waduk Wilalung yang sudah berusia seratus tahun lebih, secara teknis masih berfungsi. Namun demikian, dari informasi yang beredar, dari 9 pintu yan mengarah ke Sungai Juwana, saat ini hanya 4 buah pintu yang dapat dioperasionalkan dengan baik.

Sementara 5 pintu air lainnya disebutkan mengalami kerusakan. Informasi ini masih perlu mendapatkan konfirmasi dari pihak berwenang.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Terpopuler