Cerita Guru Selebgram Kudus, Awalnya Iseng Kini Banjir Endorse
Vega Ma'arijil Ula
Jumat, 10 Mei 2024 08:56:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Dewi Suryani dan Mega Indah Silfiani tak pernah menyangka keduanya bakal tenar hingga dikenal banyak orang sebagai guru selebgram. Bahkan tawaran endorse membanjiri keduanya.
Dewi Suryani berprofesi sebagai guru informatika, sedangkan Mega Indah Silfiani merupakan pustakawan. Keduanya mengabdi di SMA 1 Jekulo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Kepada Murianews.com, Dewi bercerita, dirinya awalnya tidak bersentuhan dengan media sosial. Namun, di awal Januari 2023 silam, rekannya yakni Mega kerap memposting berbagai kegiatannya yang random dan lucu di WhatsApp story.
”Seiring berjalannya waktu Bu Mega mulai memposting di media sosial TikTok sampai yang terbaru viral soal gelang Balenciaga yang mirip selotip atau lakban,” katanya, Jumat (10/5/2024).
Kini, selepas viral keduanya sepakat untuk terus memperbaiki konten. Bahkan akun TikTok yang dikelola keduanya dengan nama @m_36_a telah difollow 701 ribu orang dan 21,8 juta orang menyukai.
”Mulai kami perbaiki kontennya paling tidak ada pesan yang tersampaikan. Seperti konten gelang Balenciaga kami sampaikan intinya jangan menjadi orang yang sombong karena di atas langit masih ada langit,” sambungnya.
Dewi melanjutkan, selama ngonten dirinya selalu dibantu oleh Mega. Peran Mega sebagai pemantik agar dirinya terpancing sehingga muncul ide untuk ngonten.
”Bu Mega yang selalu mancing saya untuk ngelucu dan bikin konten random. Beliau bisa dibilang orang dibalik layar,” terangnya.
Ide ngonten keduanya diakui Dewi muncul secara spontan dari hal yang ada di sekitar. Isi kontennya lebih ke kehidupan sehari-hari.
”Isi kontennya kebanyakan guyonan. Ada juga pesan moral agar bermanfaat ke orang juga,” ujarnya.
Dari konten yang digarap keduanya muncullah berbagai endorse dari berbagai pihak. Kini, keduanya terus berupaya untuk memberikan konten yang bermanfaat bagi masyarakat.
”Alhamdulillah ada tawaran endorse. Tetapi kami tetap melayani endorse ketika libur dan tidak di waktu mengajar sebagai seorang guru. Kewajiban kami tetaplah mengajar” imbuhnya.
Hal serupa diutarakan Mega Indah Silfiani. Dirinya tetap berhati-hati saat ngonten.
”Kami tetap ngonten namun dengan isi konten yang positif. Selain itu kami tetap berhati-hati karena menjaga nama instansi serta sebagai ASN,” ungkapnya.
Editor: Supriyadi



