Digelar di Kudus, FFAB 2026 Angkat Cerita yang ’Tak Terlihat’
Wiwid Widia Yulhendrik
Rabu, 10 Juni 2026 23:37:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Festival Film Anak Bangsa atau FFAB 2026 tidak sekadar ajang kompetisi film. Agenda ini juga menjadi ruang ekspresi bagi sineas muda untuk mengangkat cerita-cerita di sekitar masyarakat, namun jarang terlihat, terdengar, atau terdokumentasikan.
Tema ”Scene the Unseen” yang diusung FFAB 2026 lahir dari keinginan untuk memberi ruang bagi kisah-kisah sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Seperti, cerita tentang rumah, pertemanan, pekerjaan, mimpi, hingga kehidupan komunitas yang kerap dianggap biasa, namun memiliki nilai kemanusiaan yang kuat.
Perwakilan GsT Production, Asa Jatmiko mengatakan, film pendek atau film indie memiliki kebebasan yang lebih luas dalam mengeksplorasi gagasan dan pengalaman hidup yang dekat dengan masyarakat.
Menurutnya, banyak cerita yang sebenarnya ada di sekitar kita, tetapi tidak selalu mendapat ruang dalam industri film arus utama.
”Film pendek itu media yang bebas untuk bereksperimen dan mengeksplorasi gagasan. Keliaran-keliaran itu hanya dimiliki film indie,” katanya, usai pers Rabu (10/6/2026).
Ia menilai FFAB 2026 menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai gagasan tersebut sekaligus membuka dialog antara pembuat film dan penonton.
Realitas Sosial...



