Menurutnya, workshop tersebut menjadi upaya untuk memotivasi guru agar terus mengembangkan diri, meningkatkan pengelolaan pembelajaran, serta memperkuat mutu pendidikan di madrasah.
Ia menambahkan, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah tidak terlepas dari peran guru sebagai qudwah atau teladan bagi peserta didik.
Guru menjadi pihak yang pertama kali memberikan contoh nilai-nilai cinta melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
”Jika ingin membangun ekosistem pendidikan sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan, maka guru harus menjadi pihak pertama yang memulai dan memberikan contoh dalam sikap maupun perilaku,” katanya.
Murianews, Kudus – Kurikulum Berbasis Cinta didorong dapat diimplementasikan di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, terutama di lingkungan madrasah.
Guna menguatkan penerapannya, Kemenag Kudus menggelar Workshop Praktik Pembelajaran Bermakna dalam Ekosistem Kurikulum Berbasis Cinta yang digelar di MTs dan MA Assalam Jati Kudus, Kamis (23/7/2026).
Sejumlah guru dan tenaga kependidikan MTs dan MA Assalam Jati Kudus mengikuti workshop yang menghadirkan Pengawas Kementerian Agama Kabupaten Tegal, Shofar Sholahuddin Bisri tersebut.
Di kesempatan itu, Sholahuddin Bisri membahas langsung bagaimana implementasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta di madrasah.
Kasi Pendidikan Madrasah Kantor Kemenag Kudus, Agus Siswanto, mengatakan keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan kurikulum maupun metode pembelajaran.
Peran guru sebagai pendidik yang memiliki keteladanan, komitmen, serta ruh dalam mendidik juga menjadi bagian penting.
”Komponen pendukung keberhasilan pendidikan merupakan satu kesatuan yang saling melengkapi dan menguatkan, mulai dari kurikulum, metode, guru, hingga ruh atau jiwa guru itu sendiri sebagai seorang pendidik,” ujar Agus.
Motivasi Guru
Menurutnya, workshop tersebut menjadi upaya untuk memotivasi guru agar terus mengembangkan diri, meningkatkan pengelolaan pembelajaran, serta memperkuat mutu pendidikan di madrasah.
Ia menambahkan, penerapan Kurikulum Berbasis Cinta dalam membangun ekosistem pendidikan madrasah tidak terlepas dari peran guru sebagai qudwah atau teladan bagi peserta didik.
Guru menjadi pihak yang pertama kali memberikan contoh nilai-nilai cinta melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
”Jika ingin membangun ekosistem pendidikan sesuai dengan nilai-nilai yang diharapkan, maka guru harus menjadi pihak pertama yang memulai dan memberikan contoh dalam sikap maupun perilaku,” katanya.
Kembangkan Kapasitas
Sementara itu, Pembina Yayasan Subulus Salam Assidiqiyah, KH Ma’arif Shidik, berpesan kepada para guru agar menjalankan tugas dengan penuh keikhlasan dalam mengajar dan mendidik.
Ia juga mendorong para pendidik terus meningkatkan keilmuan serta kapasitas diri agar mampu mengikuti perkembangan kebijakan dan kebutuhan pendidikan.
Melalui kegiatan tersebut, guru diharapkan semakin siap menghadirkan pembelajaran yang bermakna serta membangun ekosistem madrasah yang mengedepankan nilai-nilai cinta, keteladanan, dan penguatan karakter peserta didik.
Editor: Zulkifli Fahmi