Ia mengatakan, hasil pengerukan mulai memberikan dampak di lapangan. Air dari Rawa Kirig kini sudah dapat mengalir menuju Sungai Kauman dan dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Sebelumnya, aliran air dari rawa tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kondisi sungai yang dangkal.
Ia menambahkan, pengerjaan normalisasi menggunakan excavator long arm milik Dinas PUPR. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) pada hari pertama ditanggung Dinas PUPR, sedangkan operasional hari-hari berikutnya dilakukan secara gotong royong.
Murianews, Kudus – Normalisasi Sungai Kauman di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus yang dikerjakan Senin (20/7/2026) hampir rampung dan diharapkan bisa segera bermanfaat bagi para petani Payaman.
Sungai sepanjang 2,2 kilometer itu ditargetkan selesai Sabtu (25/7/2026) untuk memperlancar aliran air, mengurangi genangan di lahan pertanian, sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Sekretaris BPBD Kudus Syarif Hidayah mengatakan, normalisasi Sungai Kauman hasil sinergi antara BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus bersama Pemerintah Desa Payaman, Gapoktan, Poktan, Babinsa, serta Bhabinkamtibmas.
Penanganan dilakukan setelah usulan dari pemerintah desa dibahas dalam rapat koordinasi lintas instansi dan ditetapkan sebagai salah satu sungai prioritas.
”Usulan dari desa kami masukkan dalam rapat koordinasi. Yang menjadi prioritas lebih dulu itulah yang kami tangani bersama,” ujarnya, Jumat (24/7/2026).
Ia menjelaskan, pengerukan dilakukan pada alur Sungai Kauman yang merupakan bagian dari Daerah Irigasi (DI) Kauman. Sungai tersebut saling terhubung dengan Sungai Jumirah, kemudian masuk ke sistem Sungai Juana Undaan (JU-1).
Lebar sungai...
Dalam pekerjaan itu, sungai yang semula memiliki lebar sekitar dua meter diperlebar menjadi empat meter dengan kedalaman pengerukan sekitar dua meter. Sedimen hasil pengerukan dimanfaatkan untuk meninggikan tanggul sekitar satu meter sehingga kapasitas sungai menampung dan mengalirkan air menjadi lebih baik.
Menurutnya normalisasi dilakukan karena kawasan pertanian di sekitar Sungai Kauman selama ini menghadapi dua persoalan berbeda.
Saat musim hujan, lahan persawahan sering tergenang cukup lama sehingga petani terlambat memulai musim tanam dan selama ini umumnya hanya mampu menanam padi satu kali dalam setahun.
Sebaliknya, ketika musim kemarau petani kesulitan mendapatkan pasokan air karena sungai yang dangkal tidak mampu menyimpan cadangan air. Selama ini, kebutuhan irigasi banyak mengandalkan embung alami atau genangan sisa air hujan yang berada di Desa Kirig.
”Sungai tersebut dikeruk agar air dapat mengalir masuk dari embung alam tersebut. Harapannya debit banjir yang melewati permukiman lebih lancar menuju hilir, genangan di sawah lebih cepat surut, dan petani bisa memulai musim tanam sesuai jadwal sehingga peluang tanam padi dua kali dalam setahun semakin besar,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Sarana Alat Berat Dinas PUPR Kabupaten Kudus Darwanto memastikan pengerjaan masih berjalan sesuai target. Hingga Jumat (24/7/2026), progres normalisasi telah mendekati penyelesaian dan diperkirakan selesai sesuai jadwal. ”Insyaallah besok selesai,” katanya.
Berikan dampak...
Ia mengatakan, hasil pengerukan mulai memberikan dampak di lapangan. Air dari Rawa Kirig kini sudah dapat mengalir menuju Sungai Kauman dan dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian. Sebelumnya, aliran air dari rawa tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena kondisi sungai yang dangkal.
Ia menambahkan, pengerjaan normalisasi menggunakan excavator long arm milik Dinas PUPR. Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) pada hari pertama ditanggung Dinas PUPR, sedangkan operasional hari-hari berikutnya dilakukan secara gotong royong.
Editor: Anggara Jiwandhana