Tak Dinormalisasi 15 Tahun, Pendangkalan Sungai Juwana Dikeluhkan
Wiwid Widia Yulhendrik
Sabtu, 25 Juli 2026 18:03:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Kudus – Petani di Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus mengeluhkan pendangkalan Sungai Juwana dan JU-1 (Juana-Undaan 1). Pasalnya kondisi ini sudah berlangsung sekitar 15 tahun.
Pendangkalan Sungai Juwana itu akhirnya menimbulkan dampak. Areal persawahan warga kerap kebanjiran saat musim hujan, tetapi mengalami kekeringan ketika musim kemarau.
Ketua Poktan Sidomulyo Dukuh Bancak, Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Sugeng mengatakan, selama sekitar 15 tahun terakhir Sungai JU-1 belum pernah dinormalisasi secara menyeluruh.
Akibat terjadi pendangkalan sungai, yang membuat aliran air menuju kawasan persawahan tidak lagi optimal. Sehingga sebagian besar petani kini hanya berani menanam padi satu kali dalam setahun.
”Kalau dulu sebelum pendangkalan sungainya terjadi, petani bisa tanam sampai tiga kali. Sekarang paling berani satu kali setahun karena kondisinya tidak memungkinkan,” ujarnya, Sabtu (25/7/2026).
Ia menjelaskan, saat musim hujan pendangkalan Sungai JU-1, terutama dari wilayah Temulus hingga Bulung, membuat aliran air tidak lagi lancar. Akibatnya, air kerap tertahan dan meluap hingga menggenangi areal persawahan.
Sebaliknya, saat musim kemarau seperti sekarang, aliran air dari Sungai JU-1 tidak mampu menjangkau lahan pertanian. Semua karena pendangkalan sungai yang terjadi.
Petani pun hanya mengandalkan rembesan air dan cadangan air dari Rawa Kirig yang dipompa ke sawah sebagai solusi sementara. Kondisi tersebut membuat banyak petani tidak berani menanam karena khawatir kekurangan air.
”Masalahnya bukan tanahnya, tetapi sungainya. Kalau aliran air lancar, kami minimal berani tanam dua kali setahun. Dulu bahkan bisa sampai tiga kali,” katanya.
Lahan Subur...
- 1
- 2



